Selasa, 27 Mei 2008

FILSAFAT

PENGERTIAN FILSAFAT Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
Ciri-ciri berfikir filosfi :
1. Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi.
2. Berfikir secara sistematis.
3. Menyusun suatu skema konsepsi, dan
4. Menyeluruh.
Empat persoalan yang ingin dipecahkan oleh filsafat ialah :
1. Apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh Metafisika
2. Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi.
3. Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi Filsafat.
Beberapa ajaran filsafat yang telah mengisi dan tersimpan dalam khasanah ilmu adalah:
1. Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme humanistis.
2. Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme objektif.
3. Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi murupakan hakitat yang asli dan abadi.
4. Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut) tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan minusia.
Manfaat filsafat dalam kehidupan adalah :
1. Sebagai dasar dalam bertindak.
2. Sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
3. Untuk mengurangi salah paham dan konflik.
4. Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.
2. FILSAFAT PENDIDIKAN Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.
Beberapa aliran filsafat pendidikan;
1. Filsafat pendidikan progresivisme. yang didukung oleh filsafat pragmatisme.
2. Filsafat pendidikan esensialisme. yang didukung oleh idealisme dan realisme; dan
3. Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.
Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
3. ESENSIALISME DAN PERENIALISME Esensialisme berpendapat bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Esensialisme didukung oleh idealisme modern yang mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia berada.
Esensialisme juga didukung oleh idealisme subjektif yang berpendapat hahwa alam semesta itu pada hakikatnya adalah jiwa/spirit dan segala sesuatu yang ada ini nyata ada dalam arti spiritual. Realisme berpendapat bahwa kualitas nilai tergantung pada apa dan bagaimana keadaannya, apabila dihayati oleh subjek tertentu, dan selanjutnya tergantung pula pada subjek tersebut.
Menurut idealisme, nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui atau menyesuaikan diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu mempunyai pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan perasaan senang tak senang mengenai nilai tersehut. Menunut realisme, pengetahuan terbentuk berkat bersatunya stimulus dan tanggapan tententu menjadi satu kesatuan. Sedangkan menurut idealisme, pengetahuan timbul karena adanya hubungan antara dunia kecil dengan dunia besar. Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bertumpu pada nilai- nilai yang telah teruji keteguhan-ketangguhan, dan kekuatannya sepanjang masa.
Perenialisme berpendirian bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum yang telah teruji. Menurut. perenialisme, kenyataan yang kita hadapi adalah dunia dengan segala isinya. Perenialisme berpandangan hahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat dipandang baik.
Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan:
1. Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)
2. Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles)
3. Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)
Adapun norma fundamental pendidikan menurut J. Maritain adalah cinta kebenaran, cinta kebaikan dan keadilan, kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi serta cinta kerjasama.
4. PENDIDIKAN NASIONAL Pendidikan nasional adalah suatu sistem yang memuat teori praktek pelaksanaan pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh filsafat bangsa yang bersangkutan guna diabdikan kepada bangsa itu untuk merealisasikan cita-cita nasionalnya.
Pendidikan nasional Indonesrn adalah suatu sistem yang mengatur dan menentukan teori dan pratek pelaksanaan pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh flisafat bangsa Indonesia yang diabdikan demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia guna memperlanar mencapai cita-cita nasional Indonesia.
Filsafat pendidikan nasional Indonesia adalah suatu sistem yang mengatur dan menentukan teori dan praktek pelaksanaan pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh filsafat hidup bangsa "Pancasila" yang diabdikan demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia dalam usaha merealisasikan cita-cita bangsa dan negara Indonesia.
Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu: (1) filosofis; (2) psikologis; (3) sosial-budaya; dan (4) ilmu pengetahuan dan teknologi..Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas keempat landasan tersebut.
1.Landasan Filosofis
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran – aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat, kaitannya dengan pengembangan kurikulum.
a.Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
b.Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.
c.Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia ? Apa pengalaman itu ?
d.Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
e.Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional.
Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.
2.Landasan Psikologis
Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi perkembangan dan (2) psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.
Masih berkenaan dengan landasan psikologis, Ella Yulaelawati memaparkan teori-teori psikologi yang mendasari Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dengan mengutip pemikiran Spencer, Ella Yulaelawati mengemukakan pengertian kompetensi bahwa kompetensi merupakan “karakteristik mendasar dari seseorang yang merupakan hubungan kausal dengan referensi kriteria yang efektif dan atau penampilan yang terbaik dalam pekerjaan pada suatu situasi“.
Selanjutnya, dikemukakan pula tentang 5 tipe kompetensi, yaitu :a.motif; sesuatu yang dimiliki seseorang untuk berfikir secara konsisten atau keinginan untuk melakukan suatu aksi.b.bawaan; yaitu karakteristik fisik yang merespons secara konsisten berbagai situasi atau informasi.c.konsep diri; yaitu tingkah laku, nilai atau image seseorang;d.pengetahuan; yaitu informasi khusus yang dimiliki seseorang; dane.keterampilan; yaitu kemampuan melakukan tugas secara fisik maupun mental.
Kelima kompetensi tersebut mempunyai implikasi praktis terhadap perencanaan sumber daya manusia atau pendidikan. Keterampilan dan pengetahuan cenderung lebih tampak pada permukaan ciri-ciri seseorang, sedangkan konsep diri, bawaan dan motif lebih tersembunyi dan lebih mendalam serta merupakan pusat kepribadian seseorang. Kompetensi permukaan (pengetahuan dan keterampilan) lebih mudah dikembangkan. Pelatihan merupakan hal tepat untuk menjamin kemampuan ini. Sebaliknya, kompetensi bawaan dan motif jauh lebih sulit untuk dikenali dan dikembangkan.Dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2002) menyoroti tentang aspek perbedaan dan karakteristik peserta didik, Dikemukakannya, bahwa sedikitnya terdapat lima perbedaan dan karakteristik peserta didik yang perlu diperhatikan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, yaitu : (1) perbedaan tingkat kecerdasan; (2) perbedaan kreativitas; (3) perbedaan cacat fisik; (4) kebutuhan peserta didik; dan (5) pertumbuhan dan perkembangan kognitif.
3.Landasan Sosial-Budaya
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.
Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia – manusia yang menjadi terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.
Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.
Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat.
Israel Scheffer (Nana Syaodih Sukamdinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang.Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons dan berlandaskan pada perkembangan sosial – budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global.4.Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Pada awalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan kedepannya akan terus semakin berkembangAkal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Pada jaman dahulu kala, mungkin orang akan menganggap mustahil kalau manusia bisa menginjakkan kaki di Bulan, tetapi berkat kemajuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada pertengahan abad ke-20, pesawat Apollo berhasil mendarat di Bulan dan Neil Amstrong merupakan orang pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Bulan.Kemajuan cepat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia sebelumnya. Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dan cara-cara kehidupan yang berlaku pada konteks global dan lokal.
Selain itu, dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui belajar sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi siatuasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian..
Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.

Senin, 26 Mei 2008

Progresivisme

Progresivisme adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, William O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B. Thomas dan Frederick C. Neff.

Konstruktisme

Constructivism is a perspective of learning and cognition that is gaining a large following in recent times and its origins may be traced to the works of Piaget, Vygotsky, Dewey and Bruner. Constructivism is not a unitary concept but is a continium. One the one end is radical constructivism which attribute its origins to von Glaserfeld who proposed that reality is within the individual and knowledge is constructed from individual experience. On the other end is the notion of cognitive constructivism as suggested by Jean Piaget, who proposed that knowledge is constructed through three mechanisms; namely, assimilation (fitting is a new experience into an exisiting mental structure), accomodation (revising an existing schema because of a new experience); and Equilibrium (seeking cognitive stability through assimilation & accomodation). In between these two extremes is the notion of social constructivism which has its origins in the theories proposed by Lev Vygotsky, who gave importance to cultural and social contexts in influencing learning; namely the role of the community, the people around, significant adults, culture and language.
PANDANGAN KONSTRUKTIVISME TENTANG PEMBELAJARANKonstruktivisme, “merupakan rung yang melingkupi dalam psikologi psikologi, epistemology, dan pendidikan kontemporer”(Von Glasersfeld, 1997, hlm.204), gambaran tersebut adalah istilah yang secara luas digunakan oleh para filsuf, penyusun kurikulum, psikolog, pendidik, dan lainnya. Sebagian orang yang menggunakan istilah ini “menegaskan kontribusi para cendikiawan untuk menerjemahkan dan mempelajarinya melalui 2 sisi, baik itu aktivitas individu dan sosial” (Brunning, Schraw, & Ronning, 1999, hlm.215). Pandangan konstruktivisme didasari oleh oenelitian Piaget, Vygotsky, psikolgi Gestalt, Bartlett, dan Brunner, seperti juga filsafat pendidikan Jhon Dewey yang mengemukakan beberapa akar intelektual.
Tidak ada teori pembelajaran tunggal dari konstruktivisme. Sebagian besar teori dalam ilmu pengetahuan kognitif meliputi beberapa macam konstruktivisme, karena teori-teori ini menyimpulkan bahwa individu-individu membangun struktur kognitif mereka sendiri, persis seperti ketika mereka mengintepretasikan pengalaman-pengalamannya pada situasi tertentu (Palincsar, 1998). Terdapat beberapa pendekatan konstruktivisme dalam ilmu pengetahuan, pendidikan matematika, psikologi, antropologi, dan komputerisasi. Walaupun banyak psikolog dan pendidik menggunkan istilah konstruktivisme, mereka seringkali memahami dengan arti yang berbeda-beda (Marshall, 1996; McCaslin & Hickey, 2001; Phillips, 1997). Satu cara ntuk mendapatkan intisari pandangan adalah membahas dua bentuk konstruksi psikologi dan sosial (Palincsar, 1998; Phillips, 1997).
Konstruktivisme psikologi/individual.Kaum psikologi konstrktivisme “memfokuskan dengan bagaimana individu-individu membangun elemen-elemen tertentu dari perangkat kognitif dan emosional” (Phillips, 1997, hlm.153). Kaum konstruktisme tertarik dengan pengetahuan, keyakinan, konsep diri, atau identifikasi individual, oleh sebab itu mereka kadang disebut kaum konstruktiv individual; mereka semua fokus dalam kehidupan psikologi inner manusia. Ketika Chelsea berbicara dengan tembok yang digambarkan pada bagian sebelumnya, dia mengartikan sesuatu dengan menggunakan pengetahuan dan keyakinannya secara individu.
Dengan menggunakan standar ini, teori proses informasi yang belakangan ini muncul adalah teori kaum konstruktivisme (Mayer, 1996). Pendekatan proses informasi dalam pembelajaran berkaiatan dengan pikiran manusia sebagai simbol proses system itu sendiri. Sistem ini mengubah sensor input menjadi struktur simbol (proposisi, gambaran, atau skema) lalu proses (mengulangi atau mengelaborasi) struktur simbol itu sehingga pengetahuan dapat diingat dan diolah kembali. Dunia luar dilihat sebagai sumber input, tapi ketika moment tersebut masuk ke dalam daya ingat, hal-hal yang penting, diasumsikan “sedang terjadi di dalam otak” individu (Schunk, 2000; Vera & Simon, 1993). Akan tetapi, sebagian psikolog percaya, bahwa proses informasi adalah “trivial constructivism” (konstruktivisme yang sepele), karena kontribusi konstruktiv individual hanya untuk membangun representasi yang akurat tentang dunia luar (Derry, 1992; Garrison, 1995; Marshall, 1996).
Kebalikannya, pandangan psikologi konstruktiv Piaget, sedikit memfokuskan kepada representasi yang “benar” dan lebih tertarik kepada pengertian yang dibangun oleh individu. Seperti yang kita lihat pada bagian 2, Piaget mengemukakan sebuah tingkatan kognitif yang semua manusia harus melewatinya. Dengan mempelajari setiap tingkat, akan membangun dan menggabungkan tahapan sebelumnya yang membuatnya lebih teratur dan adaptif, serta tidak terpaku dalam kejadian yang nyata. Piaget lebih memfokuskan pada hal-hal yang masuk akal dan konstruksi pengetahuan secara umum, yang tidak bisa secara langsung dipelajari dari lngkungan—pengetahuan seperti konservasi atau resersevibilitas (Miller, 2002).
Pengetahuan-pengetahuan ini muncul dari merefleksikan dan menghubungkan kognisi atau pikiran-pikiran kita sendiri, bukan dari pemetaan realitas eksternal. Piaget melihat lingkungan sosial sebagai sebuah faktor penting dalam pengembangan kognisi, tapi dia tidak meyakini bahwa interaksi sosial merupakan mekanisme utama dalam mengubah penikiran (Moshman, 1997). Beberapa psikologi pendidikan dan perkembangan, telah menempatkan jenis konstruktivisme Piaget sebagai “aliran pertama konstruktivisme” atau jenis konstruktivisme “solo” dan penegasannya mengenai proses pembentukan arti secara individual (DeCorte, Greer, and Verschaffel, 1996; Paris, Byrnes, & Paris, 2001).
Konstruktivisme Sosial Vygotsky.Seperti yang dikemukakan pada bagian 2, Vygotsky meyakini bahwa interaksi sosial, unsur-unsur budaya, dan aktivitas yang membentuk pengembangan dan pembelajaran individu, seperti ketika interaksi Ben di pantai dengan Ayahnya, membentuk proses pembelajaran Ben mengenai mahluk laut, menghindari bahaya, tanggung jawab lingkungan dan geografi. Dengan berpartisipasi dalam sebuah aktivitas luar dengan orang lain “learner” (individu tersebut) mendapatkan outcome (hasil interaksi) untuk kepentingannya; “mereka memperoleh strategi dan pengetahuan dunia dan budaya” (Palincsar, 1998, hlm.351-352). Menempatkan pembelajaran dalam konteks sosial budaya adalah “aliran kedua konstruktivisme” (Paris, Byrnes, & Paris, 2001).
Oleh karena teorinya sangat bergantung pada interaksi sosial dan konteks budaya dalam menjelaskan pembelajaran, kebanyakan psikolog mengklasifikasikan Vygotsky sebagai kaum konstruktivisme sosial (Palincsar, 1998; Prawat, 1996). Meskipun demikian, beberapa teoritikus mengkategorikannya sebagai kaum psikologi konstruktivisme, karena ketertarikannya dalam pengembangan individu (Moshman, 1997; Phillips, 1997). Dalam pengertian ini, Vygotsky termasuk dalam kedua kategori tersebut; konstruktivisme sosial dan psikologi konstruktivisme. Satu kelebihan teori pembejarannya adalah membuka jalan untuk kita mempertimbangkan kedua sisi tersebut; dia menjembatani kedua kategori itu. Sebagai contoh, konsep Vygotsky tentang zona pengembangan proximal—sebuah area dimana seorang anak menyelesaikan masalah dengan bantuan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mahir—dapat disinyalir sebagai tempat dimana budaya dan kognisi membentuk satu sama lain (Cole, 1995). Budaya membentuk kognisi ketika orang dewasa menggunakan unsur-unsur dan peristiwa dalam budaya (seperti bahasa, pemetaan, komputer, bayangan, atau musik) untuk mengarahkan anak menuju nilai-nilai budaya (seperti membaca, menulis, menenun, atau menari). Sedangkan kognisi membentuk budaya, dimana orang dewasa dan anak secara bersama-sama melalui pengalaman baru dan pemecahan masalah untuk menambah daftar kelompok-kelompok budaya (Serpell, 1993).
Istilah konstruktionisme terkadang digunakan untuk membahas bagaimana pengetahuan publik terbentuk. Meskipun bukanla merupakan unsur utama dalam psikologi pendidikan, ini penting untuk dijadikan bahan pertimbangan
Konstruktionisme.Kaum konstruktionisme sosial tidak memfokuskan dalam pembelajaran individu. Mereka fokus pada bagaimana pengetahuan publik dalam disiplin ilmu seperti sains, matematika, ekonomi atau sejarah dibangun. Diluar dari jenis pengetahuan akademis ini, kaum konstruktionisme juga tertarik dalam bagaimana ide-ide yang masuk akal, keyakinan sehari-hari, dan pengertian umum mengenai dunia dikomunikasikan kepada anggota baru kelompok sosial budaya (Gergen, 1997; Phillips, 1997). Pertanyaan yang muncul meliputi siapa yang memastikan apa itu sejarah, cara yang seharusnya dalam publik atau bagaimana dapat terpilih sebagai ketua dalam kelompok sosial. Seluruh pengetahuan dibangun secara sosial, dan lebih penting lagi, sebagian orang mempunyai kekuasaan yang lebih dari orang lain untuk mendefinisikan apa itu pengetahuan. Hubungan diantara guru, murid, keluarga, dan komunitas adalah isu utama. Kolaborasi untuk mengerti perbedaan pandangan selalu dikedepankan, dan bentuk tradisional pengetahuan seringkali diperdebatkan (Gergen, 1997). Teori Vygotsky yang memfokuskan diri pada bagaimana kognisi membentuk budaya, mempunyai beberapa elemen yang sama dengan konstruktionisme.
Kesulitan yang ada dalam kondisi ini adalah ketika didorong ke dalam pengertian relativisme secara ekstrem, semua pengetahuan dan keyakinan adalah setara, karena mereka dibangun secara bersamaan. Terdapat beberapa masalah mengenai pemikiran ini bagi pendidik. Pertama, guru memiliki tanggung jawab professional untuk menegaskan nilai-nilai seperti kejujuran, dan keadilan diatas kefanatikan dan kecurangan. Keyakinan satu dan lainnya tidaklah sama. Sebagai guru, kita mengajarkan untuk belajar dengan giat. Jika pembelajaran tidak mendapatkan pengertian yang lebih mendalam dikarenakan semua pengertian dianggap sama, David Moshman (1997) menyatakan “kita bisa saja membiarkan siswa meneruskan untuk meyakini apa yang mereka yakini” (hlm.230). Lebih jauh, ini menimbulkan bahwa beberapa ilmu pengetahuan, seperti menghitung dan korespondensi tidak dibangun tetapi bersifat umum. Menimbang bahwa koresponden adalah bagian dari kemanusiaan (Gergen, 1995; Schunk, 2000).
Pandangan-pandangan berbeda dalam konstruktivisme menimbulkan beberapa pertanyaan umum dan ketidaksamaan jawaban. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak akan bisa terpecahkan, tetapi beberapa teori berbeda, cenderung untuk mendukung posisi-posisi yang berbeda itu.

PERENIALISME

Perenialisme artinya adalah kebenaran abadi, Tuhan-lah kebenaran abadi itu. Dialah yang telah menciptakan manusia berdasarkan fitrah-Nya, fitrah yang menjadi penerang jalan bagi manusia mengenal Tuhannya. Demikianlah Perenialisme menjadi prinsip yang meyakini bahwa kebenaran abadi itu sesuatu yang niscaya telah ada di dalam diri manusia sebagaimana Tuhan menyatakan di dalam firman-Nya bahwa manusia tercipta oleh fitrah-Nya. Fitrah itulah jalan lurus yang diberikan Tuhan kepada manusia agar sampai kepada-Nya. Maka hendaklah manusia tetap berpegang teguh pada fitrah itu karena di sanalah jalan keselamatan itu.
Perenialisme sebagai sebuah keyakinan mengimani bahwa seluruh agama, seluruh kepercayaan yang mengajak umatnya hidup dalam kesucian sambil berupaya mewujudkan kemaslahatan dan kebaikan umat manusia, niscaya berasal dari Tuhan yang sama adanya. Namun simbol-simbol yang dipakai setiap agama memang berbeda, disesuaikan dengan lingkungan dan kebudayaan Utusan Tuhan yang membawanya.
Malaikat Jibril lah yang menuntunkan kepada kaum Eden sehingga kaum Eden meyakini bahwa sesungguhnya Tuhan menciptakan banyak jalan keselamatan dan tidak hanya satu jalan. Dahulu, sebelum berkenalan dengan pengajaran Malaikat Jibril di Eden, kaum Eden adalah umat Islam kebanyakan yang meyakini bahwa hanya dengan ajaran Islam lah seseorang sampai kepada Tuhan, dan barangsiapa yang tidak menjadikan Islam itu sebagai agamanya, maka tiadalah diterima amal perbuatannya dan dia termasuk orang-orang yang merugi. Tapi Malaikat Jibril menunjukkan kepada kaum Eden bahwa keyakinan semacam itu adalah kesempitan dan kesalahan di mata Tuhan.
Malaikat Jibril menuntun kaum Eden untuk mengenali ayat demi ayat di dalam kitab suci Al Quran sehingga sampailah kaum Eden pada pemahaman bahwa Islam yang rahmatan lil alamin sebagaimana yang diinginkan Tuhan adalah Islam yang Perenial, yang lapang hati terhadap umat agama lain.
Tuhan mengutus banyak nabi sebagaimana banyaknya kaum di muka bumi ini. Demikianlah keragaman jalan (agama) itu tercipta seperti keragaman budaya dan bahasa tercipta. Betapapun jalan-jalan itu berbeda, namun hakikatnya satu adanya sebagaimana berbedanya satu bahasa dengan bahasa yang lainnya adalah sebuah keniscayaan. "Meja” kata orang Indonesia, “Maktab” kata orang Arab, “Table” kata orang Inggris; namun bukankah istilah itu menunjuk pada hakekat yang sama?
Semua ajaran yang melahirkan kemaslahatan bagi kehidupan manusia niscaya dari Tuhan yang sama. Niscaya Jibril jualah yang membawakan wahyunya. Kaum muslim menyebut pembawa wahyu Tuhan itu dengan nama Jibril, umat Kristen lebih akrab dengan Ruhul Kudus, orang Hindu menyebutnya Dewa Wisnu dan Dewa Surya. Sesungguhnya semua itu sama maknanya karena sesungguhnya Jibril itu sendiri adalah ruh matahari, Roh yang Suci dan dialah Perintah dan Firman Tuhan.
Maka, Malaikat Jibril menasihatkan agar umat beragama tak ribut karena bahasa dan simbol yang berbeda, padahal hakikat yang dimaksud adalah sama dan satu adanya. Seberapa banyakkah jalan Tuhan itu? Sebanyak nafas makhluk-Nya. Maka, Malaikat Jibril menasihatkan agat tak membatasi jalan-jalan Tuhan karena semua jalan menuju Tuhan yang dihikmati adalah jalan Ilahiyah.
Selain mengajarkan Al Quran, Malaikat Jibril juga mengajarkan ayat-ayat Tuhan di dalam kitab-kitab suci lainnya. Dari pengajaran Jibril itu kaum Eden mengenal ajaran-ajaran Tuhan di luar ajaran Islam yang tidak dikenal sebelumnya. Sungguh, melalui pengajaran Jibril itu kaum Eden bersaksi serta melihat Kebesaran, Keadilan dan Kemaha Pengasihan Tuhan terhadap seluruh umat-Nya. Melalui keyakinan dan pemahaman Islam perenial ini, kaum Eden menjadi lebih tenteram, damai, penuh kasih dan jauh dari sifat sombong, dan merasa diri paling benar.
Maka, Malaikat Jibril menasihatkan kepada umat beragama agar menyatukan hati dan berbahasa hati serta bersepakat di dalamnya. Dan agar umat beragama menjadikan bahasa lahir yang dimiliki umat manusia sebagai keragaman dan kekayaan besar dari Tuhan yang Maha Agung. Keragaman melahirkan dinamika, keragaman melahirkan banyak warna.
Sungguh Malaikat Jibril mengajarkan perenialisme sebagai kebenaran abadi. Sungguh kaum Eden diajarkan dan disucikan dari segala keegoan agama. Di dalam lubuk hati kaum Eden yang terdalam, tak ada perasaan bahwa kaum Eden lebih mulia dari umat Islam, Kristen, Hindu atau Buddha. Di Eden, Malaikat Jibril mengajarkan kaum Eden untuk membaca seluruh kitab suci Tuhan dari Veda, Bagavad Gita, Dhammapada, Injil, Al Quran. Bagi kaum Eden, semua kitab suci itu adalah kitab suci Tuhan yang saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Tak ada yang lebih tinggi dan lebih mulia dari yang lainnya.
Perenialisme yang diajarkan Malaikat Jibril membuat kaum Eden memuliakan semua Rasul Tuhan sejak Sidharta Gautama hingga Muhammad, namun terlarang bagi kaum Eden mengkultuskan para utusan itu. Kaum Eden sama sekali tak diperkenankan untuk meminta berkah dari para rasul itu karena sesungguhnya berkah itu hanya boleh kami minta dari Dia yang Esa semata.
Malaikat Jibril pun senantiasa memesankan kepada kaum Eden agar tak sampai jatuh pada keegoan kebenaran karena di sanalah awal kejatuhan semua pengikut ajaran Tuhan. Demikianlah kaum Eden dibawa menyampaikan risalah Islam yang perenial ke pesantren-pesantren dan organisasi-organisasi Islam. Demikian pula kaum Eden bersilaturahmi ke gereja-gereja, pura dan vihara untuk membawakan salam perdamaian dari Tuhan untuk seluruh umat beragama.
Semua itu adalah bagian dari amanah Tuhan yang harus dibawakan kaum Eden karena Tuhan ingin menyatakan bahwa perenialisme dan wajah agama yang perenial-lah yang dikehendaki Tuhan sebagai ajaran-Nya di penghujung akhir zaman ini. Karena perenialismelah yang dijaminkan Tuhan untuk menyatukan dan mempersaudarakan seluruh umat dan bangsa dalam perdamaian. Demikianlah kami kaum Eden menjadikan perenialisme sebagai ajaran Tuhan pada masa kini yang harus disebarkan kepada seluruh umat manusia.

Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai – nilai atau prinsip – prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan.Dalam pendidikan, kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta mambahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam perilaku pendidik. Mohammad Noor Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialis, bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal.
PANDANGAN MENGENAI KENYATAANPerenialisme berpendapat bahwa apa yang dibutuhkan manusia terutama ialah jaminan bahwa “reality is universal that is every where and at every moment the same “ (2:299) “ realita itu bersifat universal bahwa realita itu ada di mana saja dan sama di setiap waktu.” Dengan keputusan yang bersifat ontologism kita akan sampai pada pengertian – pengerian hakikat. Ontologi perenialisme berisikan pengertian : benda individual, esensi, aksiden dan substansi.• Benda individual adalah benda yang sebagaimana nampak di hadapan manusia yang dapat ditangkap oleh indera kita seperti batu, kayu,dll• Esensi dari sesuatu adalah suatu kualitas tertentu yang menjadikan benda itu lebih baik intrinsic daripada halnya, misalnya manusia ditinjau dari esensinya adalah berpikir• Aksiden adalah keadaan khusus yang dapat berubah – ubah dan sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensialnya, misalnya orang suka barang – barang antic• Substansi adalah suatu kesatuan dari tiap –tiap hal individu dari yang khas dan yang universal, yang material dan yang spiritual.Menurut Plato, perjalanan suatu benda dalam fisika menerangkan ada 4 kausa.• Kausa materialis yaitu bahan yang menjadi susunan sesuatu benda misalnya telor, tepung dan gula untuk roti• Kausa formalis yaitu sesuatu dipandang dari formnya, bentuknya atau modelnya, misalnya bulat, gepeng, dll• Kausa efisien yaitu gerakan yang digunakan dalam pembuatan sesuatu cepat, lambat atau tergesa – tergesa,dll• Kausa finalis adalah tujuan atau akhir dari sesuatu. Katakanlah tujuan pembuatan sebuah patung.
PANDANGAN MENGENAI NILAIPerenialisme berpandangan bahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sedangkan perbuatan manusia merupakan pancaran isi jiwanya yang berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan. Secara teologis, manusia perlu mencapai kebaikan tertinggi, yaitu nilai yang merupakan suatu kesatuan dengan Tuhan. Untuk dapat sampai kesana manusia harus berusaha dengan bantuan akal rationya yang berarti mengandung nilai kepraktisan.Menurut Aristoteles, kebajikan dapat dibedakan: yaitu yang moral dan yang intelektual. Kebajikan moral adalah kebajikan yang merupakan pembentukan kebiasaan, yang merupakan dasar dari kebajikan intelektual. Jadi, kebajikan intelektual dibentuk oleh pendidikan dan pengajaran. Kebajikan intelektual didasari oleh pertimbangan dan pengawasan akal. Oleh perenialisme estetika digolongkan kedalam filsafat praktis. Kesenian sebagai salah satu sumber kenikmatan keindahan adalah suatu kebajikan intelektual yang bersifat praktis filosofis. Hal ini berarti bahwa di dalam mempersoalkan masalah keindahan harus berakar pada dasar – dasar teologis, ketuhanan.
PANDANGAN MENGENAI PENGETAHUANKepercayaan adalah pangkal tolak perenialisme mengenai kenyataan dan pengetahuan. Artinya sesuatu itu ada kesesuaian antara piker (kepercayaan) dengan benda – benda. Sedang yang dimaksud benda adalah hal – hal yang adanya bersendikan atas prinsip keabadian.Oleh karena itu, menurut perenialisme perlu adanya dalil – dalil yang logis, nalar, sehingga sulit untuk diubah atau ditolak kebenarannya. Menurut Aristoteles, Prinsip – prinsip itu dapat dirinci menjadi :• Principium identitatis, yaitu identitas sesuatu. Contohnya apabila si Bopeng adalah benar – benar si Bopeng ia todak akan menjadi Si Panut.• Principium contradiksionis ( prinsipium kontradiksionis), yaitu hukum kontradiksi (berlawanan). Suatu pernyataan pasti tidak mengandung sekaligus kebenaran dan kesalahan, pasti hanya mengandung satu kenyataan yakni benar atau salah.• Principium exelusi tertii (principium ekselusi tertii), tidak ada kemungkinan ketiga. Apabila pernyataan atau kebenaran pertama salah, pasti pernyataan kedua benar dan sebaliknya apabila pernyataan pertama benar pasti pernyataan yang berikutnya tidak benar.• Principium rationis sufisientis. Prinsip ini pada dasarnya mengetengahkan apabila barang sesuatu dapat diketahui asal muasalnya pasti dapat dicari pula tujuan atau akibatnya.Perenialisme mengemukakan adanya hubungan antara ilmu pengetahuan dengan filsafat.• Science sebagai ilmu pengetahuanScience yang meliputi biologi, fisika, sosiologi, dan sebagainya ialah pengetahuan yang disebut sebagai “empiriological analysis” yakni analisa atas individual things dan peristiwa – peristiwa pada tingkat pengalaman dan bersifat alamiah. Science seperti ini dalam pelaksanaan analisa dan penelitiannya mempergunakan metode induktif. Selain itu, juga mempergunakan metode deduktif, tetapi pusat penelitiannya ialah meneliti dan mencoba dengan data tertentu yang bersifat khusus.• Filsafat sebagai pengetahuanMenurut perenialisme, fisafat yang tertinggi ialah “ilmu” metafisika. Sebab, science dengan metode induktif bersifat empiriological analysis (analisa empiris); kebenarannya terbatas, relatif atau kebenarannya probability. Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat ontological analysis, kebenaran yang dihasilkannya universal, hakiki, dan berjalan dengan hukum – hukum berpikir sendiri, berpangkal pada hukum pertama; bahwa kesimpulannya bersifat mutlak, asasi. Hubungan filsafat dan pengetahuan tetap diakui urgensinya, sebab analisa empiris dan analisa ontology keduanya dianggap perenialisme dapat komplementatif. Tetapi filsafat tetap dapat berdiri sendiri dan ditentukan oleh hukum –hukum dalam filsafat sendiri, tanpa tergantung kepada ilmu pengetahuan.
PANDANGAN TENTANG PENDIDIKANTeori atau konsep pendidikan perenialisme dilatarbelakangi oleh filsafat – filsafat Plato sebagai Bapak Idealisme Klasik, filsafat Aristoteles sebagai Bapak Realisme Klasik, dan filsafat Thomas Aquina yang mencoba memadukan antara filsafat Aristoteles dengan ajaran Gereja Katolik yang tumbuh pada zamannya1. PlatoPlato (427-347 SM), hidup pada zaman kebudayaan yang sarat dengan ketidakpastian, yaitu fisafat sofisme. Ukuran kebenaran dan ukuran moral menurut sofisme adalah manusia secara pribadi, sehingga pada zaman itu tidak ada kepastian dalam moral dan kebenaran, tergantung pada masing – masing individu. Plato berpandangan bahwa realitas yang hakiki itu tetap tidak berubah karena telah ada pada diri manusia sejak dari asalnya. Menurut Plato, “dunia idea”, yang bersumber dari ide mutlak, yaitu Tuhan. Manusia menemukan kebenaran, pengetahuan, dan nilai moral dengan menggunakan akal atau ratio.Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan. Masyarakat yang ideal adalah masyarakat adil sejahtera. Manusia yang terbaik adalah manusia yang hidup atas dasar prinsip “idea mutlak”, yaitu suatu prinsip mutlak yang menjadi sumber realitas semesta dan hakikat kebenaran abadi yang transcendental yang membimbing manusia untuk menemukan criteria moral, politik, dan social serta keadilan. Ide mutlak adalah Tuhan2. AristotelesAristoteles (384 – 322 SM) adalah murid Plato, namun dalam pemikirannya ia mereaksi terhadap filsafat gurunya, yaitu idealisme. Hasil pemikirannya disebut filsafat realisme. Ia mengajarkan cara berpikir atas prinsip realistis, yang lebih dekat pada alam kehidupan manusia sehari – hari. Menurut Aristoteles, manusia adalah makhluk materi dan rohani sekaligus. Sebagai materi, ia menyadari bahwa manusia dalam hidupnya berada dalam kondisi alam materi dan social. Sebagai makhluk rohani, manusia sadar ia akan menuju pada proses yang lebih tinggi yang menuju kepada manusia idealPerkembangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat mencapainya. Ia menganggap penting pula pembentukan kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral. Aristoteles juga menganggap kebahagiaan sebagai tujuan dari pendidikan yang baik. Ia mengembangkan individu secara bulat, totalitas. Aspek – aspek jasmaniah, emosi, dan intelek sama dikembangkan, walaupun ia mengakui bahwa “kebahagiaan tertinggi ialah kehidupan berpikir” (2:317)3. Thomas AquinasThomas berpendapat pendidikan adalah menuntun kemampuan – kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap –tiap individu. Seorang guru bertugad untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktif dan nyata. Menurut J.Maritain, norma fundamental pendidikan adalah :• Cinta kebenaran• Cinta kebaikan dan keadilan• Kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi• Cinta kerjasamaKaum perenialis juga percaya bahwa dunia alamiah dan hakikat manusia pada dasarnya tetap tidak berubah selam berabad – abad : jadi, gagasan – gagasan besar terus memiliki potensi yang paling besar untuk memecahkan permasalahan – permasalahan di setiap zaman. Selain itu, filsafat perenialis menekankan kemampuan – kemampuan berpikir rasional manusia sehingga membedakan mereka dengan binatang – binatang lain.
PANDANGAN MENGENAI BELAJARTeori dasar dalam belajar menurut perenialisme adalah :? Mental disiplin sebagai teori dasarPenganut perenialisme sependapat bahwa latihan dan pembinaan berpikir (mental discipline) adalah salah satu kewajiban tertinggi dari belajar, atau keutamaan dalam proses belajar (yang tertinggi). Karena itu teori dan program pendidikan pada umumnya dipusatkan kepada pembinaan kemampuan berpikir.? Rasionalitas dan Asas Kemerdekaan.Asas berpikir dan kemerdekaan harus menjadi tujuan utama pendidikan ; otoritas berpikir harus disempurnakan sesempurna mungkin. Dan makna kemerdekaan pendidikan ialah membantu manusia untuk menjadi dirinya sendiri, be him-self, sebagai essential-self yang membedakannya daripada makhluk- makhluk lain. Fungsi belajar harus diabdikan bagi tujuan ini, yaitu aktualitas manusia sebagai makhluk rasional yang dengan itu bersifat merdeka.? Learning to Reason ( Belajar untuk Berpikir)Perenialisme tetap percaya dengan asas pembentukan kebiasaan dalam permulaan pendidikan anak. Kecakapan membaca, menulis dan berhitung merupakan landasan dasar. Dan berdasarkan pentahapan itu, maka learning to reason menjadi tujuan pokok pendidikan sekolah menengah dan pendidikan tinggi.? Belajar sebagai Persiapan HidupBagi Thomisme, belajar untuk berpikir dan belajar untuk persiapan hidup (dalam masyarakat) adalah dua langkah pada jalan yang sama, yakni menuju kesempurnaan hidup, kehidupan duniawi menuju kehidupan syurgawi.? Learning through Teaching (belajar melalui Pengajaran)Adler membedakan antara “learning by instruction” dan “learning by discovery”, penyelidikan tanpa bantuan guru. Dan sebenarnya learning by instruction adalah dasar dan menuju learning by discovery, sebagai self education. Menurut perenialisme, tugas guru bukanlah perantara antara dunia dengan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai “murid” yang mengalami proses belajar sementara mengajar. Guru mengembangkan potensi – potensi self discovery ; dan ia melakukan “moral authority”atas murid –muridnya, karena ia adalah seorang professional yang qualified dan superior dibandingkan muridnya.

Selasa, 22 April 2008

Karakter guru

5 karakter guru terbaik menurut saya :
1. Creative
2. Empati kepada murid
3. Sabar
4. Cerdas, berpengetahuan
5. tidak membosankan

5 karakter guru terburuk menurut saya :
1. pemarah, kaku
2. egois
3. sensitif, tertutup, tidak komunkatif
4. membosankan
5. cuek

Minggu, 13 April 2008

Teori Maslow

Abraham Maslow

(1908 - 1970)

Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tahun 1908 dan wafat pada tahun 1970 dalam usia 62 tahun. Maslow dibesarkan dalam keluarga Yahudi dan merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara. Masa muda Maslow berjalan dengan tidak menyenangkan karena hubungannya yang buruk dengan kedua orangtuanya. Semasa kanak-kanak dan remaja Maslow merasa bahwa dirinya amat menderita dengan perlakuan orangtuanya, terutama ibunya.

Keluarga Maslow amat berharap bahwa ia dapat meraih sukses melalui dunia pendidikan. Untuk menyenangkan kemauan ayahnya, Maslow sempat belajar di bidang Hukum tetapi kemudian tidak dilanjutkannya. Ia akhirnya mengambil bidang studi psikologi di University of Wisconsin, dimana ia memperoleh gelar Bachelor tahun 1930, Master tahun 1931, dan Ph.D pada tahun 1934.

Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut:

Kebutuhan untuk aktualisasi diri

Kebutuhan untuk dihargai

Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi

Kebutuhan akan rasa aman dan tentram

Kebutuhan fisiologis / dasar

Hirarki Kebutuhan Maslow

Teori Rousseau 2

JEAN-JACQUES ROUSSEAU: ORANG GILA YANG MENARIK
Ditulis oleh Suryanto

Lebih dari dua ratus tahun, pengaruh para intelektual telah berkembang pesat. Sungguh, kebangkitan para intelektual sekuler merupakan faktor kunci dalam membentuk dunia modern ini. Dilihat dari perspektif sejarah yang panjang, kebangkitan intektual sekuler dalam berbagai segi merupakan sebuah fenomena baru. Penampilan mereka sebagai pendeta atau tukang ramal dimasa lampau membenarkan bahwa para intektual tersebut telah memberikan bimbingan dan petunjuk bagi masyarakat sejak awal. Namun, sebagai penjaga keberlangsungan warisan kebudayaan, baik yang primitif atau sofistikatif, penemuan-penemuan ideologis dan moral mereka dibatasi oleh peraturan hukum dari penguasa eksternal dan juga oleh warisan tradisi. Mereka bukan dan tidak dapat menjadi penjelajah pemikiran dengan semangat yang bebas.
Penurunan kekuatan relijius pada abad kedelapan belas menyebabkan munculnya mentor baru yang mengisi kekosongan dan menangkap telinga masyarakat. Mereka itu adalah intelektual sekuler yang skeptis dan mungkin atheist (tidak bertuhan). Tetepi mereka benar-benar siap sebagaimana seorang penceramah atau pendeta untuk memberitahu semua manusia bagaimana melakukan urusannya. Dari awal, mereka telah memproklamirkan bahwa dengan mengikuti ajaran mereka melalui pengabdian khusus untuk kepentingan kemanusiaan dapat membawa manusia dalam kemajuan. Intelektual sekuler membawa tugas kemanusian menurut pemahaman mereka tanpa disuruh dan menjalankan tugas tersebut dengan pendekatan yang jauh lebih radikal dibanding dengan pendekatan relijius para pendahulunnya. Mereka merasa diri mereka tidak terikat sama sekali dengan agama wahyu. Kebajikan-kebajikan kolektif masa lampau, warisan tradisi, kitab-kitab petunjuk warisan nenek moyang yang ada diikuti secara selektif atau ditolak secara keseluruhan dengan pertimbangan akal logika mereka. Untuk pertama kali dalam sejarah manusia dan dengan keyakinan dan perilaku yang mengejutkan, manusia bangkit untuk mengatakan dengan jelas bahwa mereka dapat mendiagnosa penyakit-penyakit masyarakat dan mengobatinya dengan intelektual mereka sendiri. Lebih lagi, mereka dapat membuat formula dimana tidak hanya struktur masyarakat tetapi juga kebiasaan fundamental umat manusia dapat ditransformasikan kedalam hal yang lebih baik. Tidak seperti para pendahulunya yang sakral, mereka bukan sebagai pelayan dan penafsir dari tuhan tetapi sebagai penganti daripada itu. Pahlawan mereka adalah Prometheous yang mencuri api surga dan membawanya ke bumi.
Salah satu sifat yang menojol dari para intelektual sekuler baru ini adalah terlalu menyukai hal-hal yang berhubungan dengan agama dan mempunyai pandangan kritis yang prontagonis terhadapnya. Seberapa jauh mereka memberikan manfaat atau membahayakan system keagamaan yang agung ini? Seberapa jauh paus dan pastur-pastur sekuler ini menjalani hidup sesuai dengan pandangannya tentang kesucian dan kebenaran, kemurahan hati dan kebajikan? Keputusan yang dijatuhkan tentang hal-hal tersebut dari gereja maupun dari pendeta adalah tidak baik bahkan kasar. Sekarang, setelah dua abad penurunan pengaruh agama dan pengaruh intelektual sekuler ini telah memainkan peranan dalam sikap dan institusi kita, inilah saatnya untuk kita meneliti catatan-catatan mereka, baik dalam bidang yang publik ataupun yang bersifat pribadi. Secara khusus, saya disini ingin memfokuskan pada kualitas pendapat dan moral para intelektual ini dalam mengajari manusia berbuat dalam urusannya sendiri. Bagaimana para intelektual ini menjalani kehidupan pribadinya? Seberepa baik moral mereka dalam berperilaku terhadap keluarga, teman dan rekan kerjanya? Apakah mereka adil dalam hal seks dan keuangan? Apakah mereka menceritakan dan menulis suatu kebenaran? Bagaimana system mereka bertahan dalam menghadapi ujian waktu dan praxis?
Penyelidikan ini dimulai dengan Jean-Jacques Rousseau (1712-78), orang pertama dari para intelektual modern yang pola dasar pemikirannya paling berpengaruh. Pendahulunya seperti Voltaire telah memulai karyanya dengan menghancurkan altar dan memberikan alasan dari penghancuran tersebut. Rousseau berbeda. Dia adalah orang pertama yang mengabungkan semua sifat-sifat yang paling penting dari Promethean modern yakni antara lain: penegasan akan haknya sendiri untuk menolak aturan yang ada secara keseluruhan, percayaan-diri akan kapasitasnya untuk mengubah aturan-aturan tersebut dari bawah sesuai dengan prinsip-prinsip yang dia miliki, berkeyakinan bahwa pengubahan ini dapat dilakukan melalui proses politik, dan naluri, intuisi, dan impulse memainkan peranan yang besar dalam perbuatannya. Rousseau percaya bahwa dia mempunyai cinta yang unik untuk kemanusiaan dan telah dianugerahkan wawasan dan anugerah yang belum pernah diberikan kepada orang lain sebelumnya untuk meningkatkan cinta itu. Banyak orang pada masa dia hidup dan sesudahnya telah mengambil nilai-nilai ajarannya sebagai nilai-nilai kehidupan mereka.
Baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek pengaruh Rousseau sangatlah besar. Dalam generasi sesudah dia meninggal, dia memperoleh status mitos. Dia meninggal dunia satu dekade sebeleum Revolusi Perancis tahun 1789 tetapi banyak bukti-bukti kontemporer mengatakan bahwa dialah yang bertanggung jawab atas revolusi ini dan juga penghancuran the ancien régime di Eropa. Edmund Burke dari Elite revolusi mengatakan bahwa: ‘Ada pertentangan yang hebat diantar pemimpin-pemimpin elite yang mana mereka sangat mirip dengan Rousseau…. Rousseau adalah tokoh panutan yang sempurna’. Robespierre juga meletakan Rousseau seperti itu: ‘Rousseau adalah seorang yang melalui kemuliaan jiwanya dan keagungan sifatnya menunjukan dirinya sangat patut sebagai guru untuk umat manusia’. Selama Revolusi, Konvensi Nasional memilihnya untuk memindahkan abunya kedalam Panthéon. Dalam upacara pemindahan, presiden telah mendeklarasikan: ’Rousseaulah orang yang telah membawa peningkatan yang memberikan kebaikan, dia telah mentranformasi moral, tradisi, hukum, perasaan dan kebiasaan kita’.
Dalam tingkat yang lebih mendalam dan dalam rentang waktu yang lebih lama, Rousseau menganti beberapa assumsi dasar tentang manusia yang berperadaban dan merubah pola pikir manusia. Pengaruhnya sangat luas tetapi dapat dikelompokan dalam lima topik utama. Pertama, semua ide modern tentang pendidikan telah dipengaruhi oleh doktrin Rousseau, khususnya oleh karyanya Émile (1762). Dia mempopulerkan dan dalam beberapa hal menemukan sifat alam, rasa udara terbuka, pencarian panjang akan kesegaran, spotanitas, sifat sifat alamiah yang menguatkan. Dia memperkenalkan kritik tentang kekomplekan masyarakat. Dia mengidentifikasi dan menunjukan kepalsuan-kepalsuan peradaban. Dia adalah penemu mandi dengan air dingin, latihan yang sistimatis, olahraga untuk pembentukan karakter dan gubuk akhir pekan.
Kedua, dihubungkan dengan penilaiannya terhadap alam, Rosseau mengajarkan ketidakpercayaan terhadap peningkatan progresif dan gradual yang disebabkan oleh budaya materialis. Dalam hal ini, dia menolak pencerahan dan mencari solusi yang jauh lebih radikal. Dia menekankan bahwa penjelasannya sendiri mempunyai kelemahan yang mendasar jika digunakan sebagai alat untuk mengobati masyarakat. Namun ini juga tidak berarti bahwa akal manusia tidak cukup untuk menyebabkan perubahan-perubahan yang diperlukan karena akal merupakan sumber tersembunyi dari wawasan dan intuisi yang harus digunakan untuk merubah pendiktean dari suatu alasan atau suatu penjelasan. Dalam mengikuti alur pemikiran ini, Rosseau menulis karya Confessions yang selesai pada tahun 1770, meskipun tidak dipublikasikan sampai dia meninggal dunia. Ketiga, konsepnya merupakan awal dari pergerakan Romantik dan literatur instropektif modern. Dalam hal ini dia mengambil penemuannya sendiri, hasil karya utama dari Renaissance, serta selangkah lebih maju, meneliti jiwanya sendiri secara mendalam dan memproduksinya untuk inspeksi publik. Ini untuk pertamakalinya para pembaca ditunjukan isi hati, meskipun ini juga merupakan sifat literatur modern. Visinya adalah untuk memperdaya orang agar percaya bahwa hati menunjukan jalan yang salah dan penuh dengan tipu muslihat.
Keempat, konsep yang dipopulerkan oleh Rousseau adalah konsep yang paling dapat menembus semua lapisan. Ketika masyarakat berkembang dari sifat primitif ke sifat kompleks masyarakat perkotaan, dia berpendapat bahwa manusia adalah terkorupsi: sifat individualis yang dia sebut sebagai amour de soi tertransformasi menjadi sebuah naluri yang jauh lebih rusak, disebut amour-prope, yang mengabungkan antara kesombongan dan harga diri. Manusia menghitung dirinya sendiri dengan bagaimana orang berpendapat tentang dirinya. Oleh karena itu, manusia terus mencari agar orang lain terkesan akan dirinya dengan uangnya, kekuatannya, superioritas otak dan moralnya. Sifat individualisnya menjadi kompetitif dan akusitif sehingga dia menjadi asing tidak hanya dari orang lain yang dia lihat sebagai kompetitor tetapi juga dari dirinya sendiri. Keterasingan ini memasukan penyakit psikologis ke dalam diri manusia yang ditandai dengan pembedaan tragis antara penampilan dan kenyataan.
Bahaya dari kompetisi adalah menghancurkan rasa kebersamaan yang merupakan sifat yang dibawa sejak lahir dan mendorong semau manusia untuk berbuat dengan sifat yang jahat termasuk hasrat untuk menguasai orang. Hal ini mengarahkan Roussaeau untuk tidak percaya kepada kepemilikan pribadi sebagai sumber kejahatan sosial. Kelima, topiknya adalah berhubungan dengan inovasinya mengembangkan kritik terhadap Kapitalisme dalam karyanya seperti dalam pembukaan drama Narcisse maupun dalam Discours sur l’inégalité. Dalam karyanya ini, Rousseau mengidentifikasi kepemilikan dan kompetisi untuk mendapatkan kepemilikan tersebut merupakan sumber utama dari keterasingan. Ini merupakan sebuah pemikiran Marx dimana orang lain mengambilnya dengan paksa sebagaimana dengan ide-ide Rousseau tentang evolusi kultural. Bagi dia, “natural’ berarti ‘original’ atau pre-kultural. Semua kultur membawa masalah. Ini karena hubungan manusia dengan manusia lain yang menyebabkan kebiasaan jahatnya, sebagaimana dia paparkan dalam karyanya Émile, ‘Nafas orang berakibat fatal untuk temannya’. Dengan demikian, budaya dimana orang hidup merupakan sebuah perilaku manusia yang terdikte, terkontruksi secara semu, dan berkembang. Dan kita dapat meningkatknya, atau benar-benar mentransformasikanya dengan merubah budaya dan kekuatan kompetitif yang menghasilkanya, yakni, dengan social engineering (teknik sosial).
Ide-ide diatas tersebar secara luas dengan sendirinya dan hampir merupakan sebuah ensiklopedia pemikiran modern. Benar bahwa tidak semua ide-ide tersebut adalah asli miliknya. Bacannya luas: Cescrates, Rabelais, Pascal, Leibnitz, Bayle, Fontenelle, Corneille, Pertrarch, Tasso, dan secara khusus, dia belajar pada Locke dan Montaigne. Germaine De Staël yang percaya bahwa Rousseau mempunyai “kemampuan natural yang paling tinggi yang pernah dianugerahkan pada manusia” menyatakan “Roesseau tidak menemukan apa-apa”. Germanie menambahkan, “ Dia telah menanamkan pahamnya dengan api”. Cara yang sederhana, langsung, penuh kekuatan, dan sungguh-sungguh menunjukan rasa cinta yang tinggi membuat Rousseau menuliskan pahamnya dengan begitu jelas dan segar, sehingga tulisan-tulisannya membuat laki-laki dan wanita-wanita yang membacanya mendapatkan kejutan.
Kemudian, siapakah orang yang menjadi sumber dari kekuatan intelektual dan moral yang luarbiasa dan bagaimana cara dia mendapatkan kekuatan tersebut? Rousseau adalah orang swiss yang lahir di Genewa pada tahun 1712 dan besar sebagai seorang Calvinis. Ayahnya Isaac adalah pembuat jam tetapi tidak sukses, menjadi pengacau dan sering terlibat dalam kekerasan dan kekacauan. Ibunya, Suzanne Bernard, berasal dari keluarga kaya. Dia meninggal tidak lama setelah melahirkan Rousseau. Kedua orang tuanya tidak berasal dari lingkaran keluarga yang membentuk pemerintahan oligarki Genewa dan tidak juga termasuk dalam Dewan Dua Ratus dan Dewan Duapuluh dua Dalam. Tetapi mereka mempunyai hak untuk memilih dan hak hukum istimewa dan Rousseau selalu ingin tahu tentang status superiornya. Ini membuatnya menjadi seorang yang konservatif secara alami dan membuat perenungan sepanjang hidupnya tentang orang yang tidak punya hak suara. Selain itu, keluarganya mempunyai uang yang jumlahnya begitu besar.
Rousseau tidak mempuyai saudara perempuan. Dia mempuyai kakak laki-laki tujuh tahun lebih tua. Rousseau sangat mirip dengan ibunya, itulah maka ayahnya sangat menyayanginya. Perlakuan ayahnya kepadanya terus berubah-ubah dari kasih sayang yang bisa membuat air mata berlinang sampai kekerasan yang menakutkan dan bahkan Jean-Jacques yang disayangi ayahnya ini merasa cara ayahnya membesarkan dia tidak baik, akhirnya dia mengeluhkannya dalam karyanya Émile. Kutipan ini mengambarkannya: ‘Ambisi, kerakusan, tirani, pandangan yang melenceng dari ayah, ketidakacuhan, dan ketidakperasaan adalah jauh lebih berbahaya dibanding dengan kelembutan kasih sayang ibu yang tidak pernah terpikirkan’. Kakaknya menjadi korban keganasan ayahnya. Dia dikirim ke tempat rehabilitasi atas pemintaan ayahnya dengan alasan dia sangat jahat; pada tahun 1723 kakaknya melarikan diri dan setelah itu tidak pernah terlihat lagi. Rousseau kemudian menjadi anak satu satunya yang besar dalam situasi dimana dia bergaul dengan pemimpin-pemimpin modern. Meskipun dibebaskan untuk menikmat hidup dengan caranya sendiri, dia muncul dari masa kecil dengan rasa kehilangan yang kuat dan mungkin sifat pribadi yang paling nampak yaitu merasa kasihan pada diri-sendiri.
Kematian membuatnya kehilangan baik ayah maupun ibu-asuhnya. Dia tidak suka perdagangan yang memberikan penghasilan rendah padanya. Maka pada tahun 1728 dia pergi meninggalkan dunia perdagangan dan menjadi seorang penganut Katholik agar supaya memperoleh perlindungan dari Madame Françoise-Lousie de Warens yang tinggal di Annecy. Penjelasan tentang karir Rousseau sebagaimana yang tercatat dalam karyanya Confessions tidak dapat dipercaya. Tetapi surat-suratnya pribadinya dan sumber-sumber dari industri besar Rosseau dapat digunakan sebagai fakta-fakta penting. Madame de Warens hidup dengan gaji pesiun dari Kerajaan Perancis dan agaknya dia menjadi seorang agen baik untuk Pemerintah Perancis maupun untuk Gereja Katolik Roma. Rousseau tinggal bersamanya dengan biaya hidup ditanggung olehnya selama empat belas tahun (1728 – 1742). Pada saat itu Rousseau menjadi kekasihnya. Selama itu juga ada waktu-waktu tertentu dimana Rousseau pergi jalan-jalan sendiri. Sampai umur tigapuluhan, Rousseau mengalami kegagalan dan ketergantungan, khususnya pada wanita. Dia telah mencoba setidaknya tiga belas pekerja sebagai pengukir, pesuruh, murid seminary, musisi, pegawai negeri, petani, tutor, kasir, penyalin musik, penulis dan sekretaris pribadi. Pada tahun 1743, dia diberi jabatan basah sebagai sekretaris untuk kedutaan Perancis di Venice, Comte de Mantaigu. Ini berlangsung selama sebelas bulan dan dia mengakhirnya dengan pemberhentian dan terbang untuk menghindari penangkapan Senat Venisia. Montaigu menyatakan bahwa sekretarisnya dihukum karena sifat pribadinya yang buruk dan tidak menghormati orang lain. Ini merupakan hasil dari mental yang sakit dan terlalu mementingkan dirinya sendiri.
Beberapa tahun kemudian Rousseau telah menemukan dirinya sendiri sebagai seorang penulis yang berbakat dari lahir. Dia mempunyai ketrampilan hebat yang berhubungan dengan merangkai kata-kata. Dia benar-benar efektif dalam menuliskan kasus-kasusnya sendiri dalam surat tanpa merasa berhati-hati dalam berhubungan dengan fakta-fakta. Sungguh dia mungkin bisa menjadi seorang pengacara yang cerdas. (Salah satu alasan mengapa Montaigu tidak menyukainnya adalah karena kebiasaan Rousseau selalu menguap terus menerus atau bahkan berjalan-jalan ke Jendela ketika sang duta besar, Montaigu berjuang untuk memikirkan kata-kata yang akan ditulis). Pada tahun 1745, Roussseau bertemu dengan seorang tukang cuci muda, Thérèse Levasseur, sepuluh tahun lebih muda umurnya yang mau menjadi wanita simpanannya secara permanen. Ini memberikan semacam kestabilan hidup Rousseau. Pada saat itu dia bertemu dengan tokoh Denis Diredot, seorang kardinal Pencerahan dan kemudian menjadi Editor-in-Chief dari Encyclopédie. Seperti Rousseau, Diderot merupakan seorang anak dari seorang artis dan menjadi prototipe seorang penulis berbakat alami. Dia adalah orang yang baik hati dan bakat ketekunan. Rousseau berhutang banyak kepadanya. Melalui dia, Rousseau bertemu dengan diplomat dan ahli kritik sastra Jerman, Friedrich Melchior Grimm yang sangat terkenal di masyarakat. Grimm membawanya ke salon yang paling radikal Baron d’Holbach yang terkenal sebagai ‘le Maître d’Hotel de la philosophie’.
Kekuatan intelektual Perancis pada tahun 1700 baru berada pada saat permulaan. Namun, kekuatan intelektualnya meningkat secara pesat pada paruh akhir abad ini. Pad tahun 1740-an and 1750-an, posisi para intelektual ini sebagai ahli kritik masyarakat masih berbahaya. Negara ketika merasa terancam oleh mereka masih sangat mungkin untuk cepat mengambil tindakan atas mereka dengan kejam. Rousseau kemudian dengan lantang mengeluhkan penganiayaan atas dirinya. Namun dalam hal ini, sesungguhnya dia tidak banyak menyumbangkan sesuatu dibanding dengan para intelektual lainnya. Voltaire dikurung oleh para pelayan aristokrat yang dia kritik dan kemudian dipenjara di penjara Bastille hampir setahun. Siapa saja yang menjual buku larangan akan dihukum selama sepuluh tahun untuk bekerja sebagai budak, bekerja tanpa digaji. Pada tahun 1749, Diderot ditangkap dan diasingkan di Vincennes karena menulis buku yang membela atheisme. Dia berada disana selama tiga bulan. Rousseau mengunjunginya disana, dan pada saat berjalan di Vincennes, dia melihat selebaran dari Akademi Sastra Dijon yang mengundang untuk perlombaan menulis essay dengan tema “Whether the rebirth of the sciences and the arts has contributed to the improvement of morals’
Episode yang terjadi pada tahun 1750 ini merupakan titik balik dalam kehidupan Rousseau. Dia melihat secercah inspirasi akan apa yang harus ia lakukan. Orang-orang lain yang mengikuti kompetisi itu pada umumnya memberikan penjelasan tentang asal-muasal seni dan ilmu pengetahuan. Rousseau berbeda denga mereka. Dia berargumen tentang superiority alam. Secara tiba-tiba, sebagaimana apa yang dia katakan dalam Confessions, dia menaruh sebuah antusiasme yang berlebih-lebihan untuk ‘kebenaran, kebebasan, dan kebajikan’. Dia berkata bahwa dia telah menyatakan pada dirinya sendiri: ‘Kebajikan, kebenaran! Saya akan meneriakan terus-menerus kebajikan dan kebenaran! Dia menambahkan ‘baju tidurku terendam dengan air mata yang keluar tanpa aku sadari’. Linangan air mata mungkin bisa benar: dia memang mudah mengeluarkan air mata. Yang pasti adalah bahwa Rousseau memutuskan untuk menulis essay sejalan dengan apa yang menjadi inti dari serangkaian keyakinannya, dan memenangkan hadiah karena pendekatannya yang paradoks, dan menjadi terkenal dalam waktu sekejab. Ini merupakan satu kasus seorang laki-laki yang berumur tiga puluh sembilan, yang sampai saat itu hidup dalam kepahitan dan ketidaksuksesan, merindukan perhatian dan ketenaran, dan akhirnya, dia benar-benar memperolehnya. Essaynya sangat lemah dan sekarang hampir tidak dapat dibaca. Selalu, ketika orang melihat kembali peristiwa sastra semacam itu, agaknya tidak dapat dijelaskan bahwa karya yang tidak begitu bermutu telah dapat menghasilkan ledakan ketenaran selebriti; sungguh, kritikan terkenal dari Jules Lemaître menyebut puncak karir instan Rousseau ini sebagai ‘salah satu bukti yang paling kuat yang pernah ada tentang kebodohan manusia’.
Publikasi Discours dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan tidak membuat Rousseau kaya, meskipun buku itu disirkulasikan secara luas dan diproduksi hampir tigar ratus kali, namun jumlah salinan yang terjual sedikit dan penjual bukulah yang menikmati hasil dari karya semacam itu. Disisi lain, ini memberikan jalan bagi Rousseau untuk bergaul dengan kaum aristokrat, yang pada saat itu sangat terbuka untuk para intelektual. Rousseau dapat mensupport dirinya dengan salinan musik (tulisan tangannya sangat bagus) tetapi setelah tahun 1750 dia selalu dalam posisi tergantung kepada keramahtamahan para aristokrat, kecuali (sebagaimana sering tejadi) ketika dia memilih untuk bertengkar dengan siapa saja yang menyingkirkannya karena dianggap tidak berarti. Untuk masalah pekerjaan, dia menjadi seorang penulis yang professional. Dia selalu kaya ide-ide, dan ketika dia ingin menuangkannya, dia mampu menuangkan dengan mudah dan bagus. Tetapi dampak dari buku-bukunya baik semasa hidupnya ataupun jauh sesudahnya sangatlah bervariasi. Bukunya Social Contrat, yang secara umum mengandung kematangan filosofi politiknya yang dia tulis mulai pada tahun 1752 dan akhirnya dipublikasikan sepuluh tahun berikutnya, jarang sekali dibaca sepanjang hidupnya dan hanya dicetak ulang sekali pada tahun 1791. Penelitian dari lima ratus perpustakaan yang memiliki karya yang sejenis menunjukan bahwa hanya satu perpustakaan yang mempunyai salinannya. Seorang sarjana Joan Macdonald yang meneliti 1114 pamflet politik yang dicetak pada tahun 1789-1791 menemukan hanya dua belas yang mencantumkan buku tersebut sebagai referensi. Sebagaimana yang diamati oleh Joan Macdonald: ‘perlu dibedakan antara ketenaran Rousseau dan pengaruh pemikiran politiknya’. Ketenarannya yang dimulai hanya pada penganugerahan hadiah essay. Kemashurannya terus berkibar dan diikuti terbit dua bukunya. Pertama adalah Novelnya La Nouvelle Héloïs, terjemahan dalam bahasa Inggris, Letters of Two Lovers dan yang kedua adalah Clarissa. Ceritannya tentang mengejar, mengoda, pertobatan, hukuman seorang wanita muda, ditulis dengan ketrampilan menulis yang hebat untuk menarik baik para pembaca, khususnya waninta, dan pasar dikaum wanita kelas menengah dengan cita rasa moralitas mereka. Isinya sangat terang-terangan untuk waktu itu, tetapi pesan akhirnya betul-betul pas. Pendeta Paris menuduhnya ‘mengajarkan racun nafsu birahi namun seolah-olah melarangnya’. Kritikan itu menyebabkan penjualannya meningkat. Rousseau mengunakan kata-kata yang sangat menarik pada halaman pembukaan dimana dia mengatakan dengan jelas dan tegas ’gadis yang hanya membaca satu halaman dari buku itu akan kehilangan ruh dari buku tersebut, namun dia juga menambahkan ‘gadis suci tidak membaca cerita-cerita cinta’. Pada kenyataannya gadis suci dan suster-suster membacanya dan menjadikan buku tersebut best-seller meskipun kebanyakan buku yang dijual merupakan buku bajakan.
Kemasyhuran Rousseau semakin luas pada tahun 1762 dengan terbitnya ‘Émile, dimana dia meluncurkan ribuan ide-ide tentang alam dan sikap-sikap manusia terhadapnya. Buku ini menarik jumlah maksimum pembaca. Dalam satu hal Rousseau sangat pandai untuk menampilkan kebaikan dirinya. Ini salah satu bagian yang menarik darinya, sebagai nabi kebenaran dan kebajikan dengan menunjukan batasan akal manusia dan menempatkan agama dalam hati manusia. Dia memasukkan dalam bukunya Émile sebuah bab yang berjudul ‘Profession of Faith’ yang mana dia menuduh kawan-kawan intelektual di abad Pencerahan, khususnya yang atheis ataupun yang hanya deis, dengan sebutan arogan dan dogmatis, ‘menyatakan dengan apa yang disebut skeptis untuk mengetahui segalanya’ dan tanpa memperhatikan kerusakan yang mereka buat terhadap semua orang dengan meruntuhkan keyakinannya: ‘Mereka menghancurkan dan menginjak-injak dibawah kakinya semua orang yang terhormat yang mengikuti ajaran agama dan mengambil hanya satu kekuatan yaitu nafsu akan harta dan kekuasaan’. Tindakan Rousseau ini memang sebuah alat yang sangat efektif, namun untuk menyeimbangkannya, Rousseau juga merasa perlu untuk mengkritik Gereja yang sudah mapan, khususnya tentang keyakinan terhadap keajaiban dan takhayul. Rousseau sangat tidak berhati-hati dengan memasukan kritikan tersebut dalam karya Emile. Ini barangkali karena dia frustrasi dengan pembajakan bukunya. Setelah itu Rousseau menjadi tertuduh di mata kaum geraja Perancis sebagai seorang pengkhianat ganda. Setelah beragama Katolik, dia kemudian pindah lagi ke Kalvinisme agar supaya mendapatkan kembali kewarganegaraan Genewa. Pada saat itu, Parlemen Paris yang didominasi oleh Jansenist menolak keras sentiment anti-katolik didalam karya Rousseau Émile. Dan Mereka memerintahkan buku tersebut untuk dibakar didepan Palaies de Justice and mengeluarkan juga surat perintah untuk penangkapan Rousseau. Dia selamat karena mendapat peringatan dari kawan-kawnnya yang mempunyai kedudukan tinggi di pemerintahan. Setelah itu, dia menjadi seorang pelarian selama bertahun-tahun. Orang-orang Kalvanist juga menolak bukunya Émile bahkan diluar wilayah katolikpun dia terpaksa pindah dari satu tempat ketempat lain. Namun dia selalu mendapatkan perlindungan, di Britain (dimana dia tinggal selama 15 bulan pada tahung 1766-67) dan di Perancis pun juga demikian, dimana dia hidup dari 1967 dan seterusnya. Selama dekade terakhirnya hidupnya, pemerintah sudah tidak tertarik lagi padanya, dan musuh utamanya adalah para intelektual, khususnya Voltaire. Untuk menjawab mereka, Rousseau menulis buku Confessions yang ditulis di Perancis dan selesai pada tahun 1770. Dia tidak mau mengambil resiko dengan mencetak bukunya tetapi buku tersebut sangat terkenal karena dia membacakannya dirumah-rumah kaum bangsawan. Pada saat kematiannya pada tahun 1778, reputasinya mulai segar kembali dan mencapai puncaknya ketika revolusi Peracancis mengambil alih kekuasaan.
Rousseau kemudian menikmati kesuksesaan yang luarbiasa dalam hidupnya. Bagi orang modern tidak penuh dengan syakwasangka, dia tampaknya tak akan mempunyai sesuatu yang digerutukan. Tetapi, Rousseau merupakan salah seorang penggerutu yang paling hebat dalam sejarah literatur. Dia menekankan bahwa hidupnya penuh dengan kesedihan dan penderitaan. Dia sering sekali mengulang-mengulang keluhannya dengan kata-kata yang sangat menyedihkan sehingga orang merasa berkewajiban percaya kepadanya. Dalam satu hal, dia tak mau berubah pikiran: ‘dia menderita ganguan kesehatan yang kronis. Dia adalah seorang yang malang karena sakit…yang berjuang setiap hari dalam hidupnya diantara kesakitan dan kematian’. Dia telah ‘tidak bisa tidur selama tiga puluh tahun’ Dia menambahkan,’Alam yang membuat saya menderita telah memberikan bukti pada sakit saya agar supaya tak mampu mengeluarkan kekuatan saya. Benar bahwa dia selalu mempunyai masalah dengan alat kelaminnya. Dalam sebuah surat kepada temannya Dr. Tronchin, yang ditulis pada tahun 1755, dia menunjuk pada, ‘cacad organ sejak saya lahir’. Penulis biografinya Lester Croker, setelah meneliti dengan hati-hati, menulis: saya yakin bahwa Jean-Jacques lahir sebagai korban hypospadias, sebuah kelainan bentuk alat kelamin yang mana saluran kecingnya terbuka di permukaan perut’. Di masa dewasanya, ini menjadi penyempitan sehingga memerlukan selang untuk buang air kecil yang mana hal ini memperbesar masalahnya baik secara fisik maupun psikologis. Rousseau selalu merasa mau buang air kecil dan ini membuatnya dalam kesulitan ketika dia berada di masyarakat kelas tinggi. Dia menulis, ‘ Saya merasa ngeri memikirkan diri saya sendiri di sekeliling wanita dan harus menunggu sampai percakapan tentang sesuatu yang bagus itu selesai ….. Ketika akhirnya saya menemukan tangga rumah, ada banyak wanita yang membuatku harus menunggu, kemudian, halaman penuh dengan kereta kuda yang berjalan yang siap menabrak saya, para pembantu wanita yang melihat saya, para pesuruh yang baris di sepanjang tembok dan menertawakan saya. Saya tak dapat menemukan satu tembokpun atau pojokan yang sedikit buruk yang cocok untuk tujuan saya. Pendeknya, saya bisa buang air kecil didepan semua orang dan dihadapan bangsawan yang memakai stocking kaki putih.’
Bacaan tersebut menggambarkan kemalangan dirinya dan juga menunjukan bahwa kesehatan Rousseau tidak seburuk seperti yang dia gambarkan. Pada waktu-waktu tertentu, dia menunjukan kondisi kesehatannya yang baik. Penyakit susah tidur yang dia derita sebagian hanya merupakan fantasi karena banyak orang telah membuktikan dia tidur mendekur. David Hume, orang yang bersama dengannya dalam perjalanan ke England, menulis,’Rousseau adalah orang yang paling kuat dan sehat saya pernah lihat. Dia sanggup berada diatas geladak kapal selama sepuluh jam pada malam hari dalam keadaan cuaca sangat buruk dimana semua awak kapal hampir mati kedinginan, dan dia merasa tidak ada apa-apa.
Keprihatinan yang mendalam tentang kesehatannya adalah dinamika dari kemalangan yang membungkusnya dan terus-menerus berada dalam setiap episode hidupnya. Sejak kecil, dia terbiasa membuat ‘cerita’ untuk menarik simpati, khususnya dari wanita-wanita kaya. Dia menyebut dirinya sebagai “manusia yang paling tidak susah’ dan menegaskan bahwa: ‘Nasibku adalah sesuatu yang orang tidak akan berani mendiskripsikannya, dan tak seorangpun akan percaya. Pada kenyataannya, dia sering mendiskripsikan perihal tentang dirinya dan banyak orang yang benar-benar percaya kepadanya sampai mereka tahu benar sifat-sifatnya. Bahkan setelah ketahuan sifat aslinya, masih tetap ada yang bersimpati. Madame d’Epinay adalah seorang wanita pengemarnya yang mana Rousseau selalu memperlakukan dengan tidak baik. Bahkan setelah tahu dengan jelas siapa Rousseau, dia tetap berkata, ‘saya merasa terharu dengan cara Rousseau menceritakan kemalangannya’. Dia adalah apa yang biasa tentara menyebut sebagai Tentara Tua. Orang tidak terkejut bahwa sebagai anak muda, dia menulis surat permohonan Gubernur Savoy untuk meminta pensiun dengan dasar bahwa dia menderita sakit yang parah dan akan mati segera.
Dibelakang rasa kemalangan ada rasa egoisme yang kuat, sebuah perasaan tidak suka dengan orang lain, baik dalam penderitaan maupun dalam kejayaan. Rousseua menulis: ‘Bagaimanakah mungkin penderitaanmu sama dengan penderitaaku? Keadaanku sangat unik, tak terdengar sejak dari awal waktu…’. Dia juga menulis hal yang hampir sama: ‘Orang yang dapat mencintaiku sebagaimana aku mencintai diriku sendiri masih harus dilahirkan’, ‘Tak seorangpun yang mempunyai bakat lebih untuk mencintai’. ‘Saya terlahir untuk menjadi teman sejati’. ‘Saya akan mati dengan keprihatinan jika ada orang yang lebih baik dariku’. ‘Tunjukan padaku orang yang lebih baik dariku, yang penuh kasih, lembut, dan penuh perasaan….’. ‘Orang yang terlahir nanti akan menghormatiku….karena itu adalah hakku.’ ‘Saya menunjukan kebahagianku.’ ‘….pelipur laraku berada dalam harga diriku.’ ‘…jika ada satu pemerintahan yang sudah tercerahkan di Eropa, permerintah itu akan membangunkan patung untukku.’ Maka tak mengherankan kalau Burke mendeklarasikan: ‘kesombongan yang dia miliki sampai pada tingkat sedikit gila.’
Bagian dari kesombangan Rousseau adalah bahwa dia percaya kalau dirinya sendiri tidak mempunyai perasaan emosional. ‘Saya merasa terlalu baik untuk membenci’. ‘Aku terlalu mencintai diriku sendiri kalau membenci orang’. ‘Tak pernah aku tahu nasfu kebencian, juga tak pernah aku tahu cemburu, kedengkian, dendam, masuk dalam hatiku….kemarahan kadang-kadang, namun saya tak pernah menyimpannya dan juga tak pernah mengungkapkannya dengan gerutuan.’ Kenyataanya, dia sering mengerutu dan menyimpan dendam kemarahannya. Banyak orang melihatnya. Rousseau adalah seorang intelektual yang memproklamirkan diri sebagai sahabat umat manusia. Tetapi selain mencinta sebagaimana dia lakukan untuk kemanusiaan secara umum, dia juga mengembangkan sebuah kebiasaan bertengkar dengan manusia lain. Salah satu korbannya adalah Dr. Tronchin dari Genewa yang memprotes: ‘Bagaimana mungkin sahabat umat manusia adalah orang tidak lagi sahabat dari manusia? Menjawabnya, Rousseau mempertahankan haknya untuk marah kepada orang-orang yang layak dimarahi: ‘Saya sahabat dari umat manusia dan manusia ada dimana-mana. Sahabat yang benar juga menemukan orang dengki dimana-mana – dan saya tidak pergi terlalu jauh.’ Menjadi orang yang egois, Rousseau cenderung menyamakan perasaan benci terhadap dirinya dengan perasaan benci terhadap kebenaran dan kebajikan semacam itu. Oleh karena itu, tidak ada yang lebih buruk bagi musuh-musuhnya kecuali membuat masuk akal doktrin tentang hukuman kekal bagi keberadaan mereka. Dia berkata kepada Madame d’Épinay, ‘Saya ini pada dasarnya bukan orang yang kasar, tetapi ketika saya melihat ada ketidakadilan untuk monster-monster ini, saya suka berpikir ada neraka yang menunggu mereka.’
Kalau Rousseau itu adalah orang yang sombong, egois dan suka bertengkar, Bagaimana ceritanya sehingga sangat banyak orang siap menjadi sahabatnya? Jawaban untuk pertanyaan ini membawa kita kepada watak dasarnya dan pentingnya sejarah. Sebagaian karena kebetulan, sebagaian karena naluri, sebagian karena usahanya yang hati-hati, dia adalah intelektual pertama yang secara sistematis mengeksploitasi kesalahan hak-hak istimema bagi kaum bangsawan dan orang-orang kaya. Lebih-lebih lagi, dia melakukannya dengan cara yang benar-benar baru, cara memuji kasar yang sistematis. Dia adalah prototipe karakter tokoh jaman modern, the Angry Young Man. Secara alami dia tidak anti-sosial. Sungguh dari sejak kecil, dia ingin bersinar di masyarakat. Khususnya, dia ingin mendapatkan senyum-senyum wanita di masyarakat. Dia menulis, ‘penjahit-penjahit wanita, pembantu, penjaga toko wanita tidak mengodaku. Saya butuh wanita-wanita muda.’ Dia adalah orang yang picik, agak kasar dan tidak menyenangkan. Usaha pertamanya untuk masuk dalam masyarakat pada tahun 1740-an benar-benar gagal. Drama pertamanya tentang kebaikan wanita yang menikah di masyarakat merupakan sebuah kehancuran yang membuatnya terhina.
Tetapi, setelah kesuksesan essaynya membuatnya mampu untuk memainkan kartu alam, dia merubah taktiknya. Sebagai ganti dari menyembunyikan kekasarannya, dia justru menekankannya. Dia membuat kekasaran menjadi kebajikan. Dan strategi itu berhasil. Sudah menjadi kebiasaan diantara kaum terpelajar dari bangsawan Perancis merasa tidak nyaman lagi dengan system lama tentang hak-hak istimewa kelas masyarakat. Ahli kritik sosial, C.P. Duclos menulis: ‘Diantara orang-orang besar, bahkan orang-orang yang sebenarnya tidak begitu suka dengan para intelektualpun bertindak seolah-olah mereka juga tidak suka dengan sistem hak istemewa kelas karena itu sudah menjadi model.’ Dengan demikian hampir semua penulis bertindak demikian, meniru dengan cara tidak baik untuk kebaikan mereka. Dengan melakukan hal yang berlawanan, Rousseau menjadi tampak jauh lebih menarik, cerdas dan brilian sebagaimana orang suka memanggilnya ‘Brute of Nature’ atau ‘Bear’. Dia dengan sengaja menekankan sentimen yang berlawanan dengan konvensi. Dia berkata: ‘sentimen saya adalah pada mereka yang tidak mau berubah. Mereka membuat saya kehilangan kesopanan padanya.’ Dia mengakui bahwa dia kasar, tidak menyenangkan, dan tidak diterima secara sosial dalam hal prinsip. Saya tidak peduli dengan orang yang termasuk anggota istana. Saya barbarian.’
Pendekatan ini sangat cocok dengan tulisan-tulisannya yang jauh lebih senderhana dibanding dengan penulis kontemporer saat itu yang banyak memoles tulisan mereka. Caranya yang langsung ini sesuai dengan perlakuanya tentang seks dalam novel La Nouvelle Héloïse yang merupakan salah satu novel yang menyebutkan tentang bagaimana cara wanita berpakaian. Rousseau membuat rambu-rambu penolakannya terhadap norma-norma sosial dengan kesederhanaan dan kelonggaran cara berpakaian yang pada saat itu menjadi ciri utama dari anak muda jaman Romantik. Dia kemudian mencatat: ‘Saya memulai reformasi saya dengan cara berpakaian saya. Saya berhenti memakai tali emas dan stocking putih dan memakai wig budar. Saya berhenti memakai pedang dan menjual jam saya.’ Kemudian diikuti dengan rambut panjang, apa yang dia sebut, ‘style saya yang ceroboh dengan jengot kasar’. Dia adalah cendekiawan yang berpakain begitu. Selama bertahun-tahun dia mengembangkan berbagai cara mentereng untuk menarik perhatian publik padanya. Di Neufchâel dia dilukis oleh Allan Ramsay mengunakan jubah Armenia kaftan. Dia bahkan memakainya untuk pergi ke gereja. Orang-orang lokal pada mulanya menolak tetapi setelah itu menjadi biasa dan pada saat itu menjadi ciri-ciri buat Rousseau.
Sadar atau tidak, dia adalah seorang ahli untuk mempublikasikan diri: keantikannya, brutalitas sosialnya, kepribadian ekstrimisnya, bahkan pertengkarannya menarik banyak perhatian dan tidak diragukan lagi merupakan bagian dari daya tariknya baik bagi pengemar aristokrat maupun pembaca dan pemujanya. Ini merupakan fakta significan yang harus kita lihat bahwa setidaknya melalui cara berpakaian dan berpenampilan dapat menjadi bagian penting dari kesuksessan banyak pemimpin intelektual. Rousseau mengikuti jalan ini dalam berbagai cara. Siapa yang dapat mengatakan bahwa dia salah? Orang-orang sangat resisten dengan ide-ide, khususnya yang baru. Tetapi ide-ide baru tersebut biasanya secara alami menyenangkan. Kepribadian luar biasa adalah salah satu caranya. Ini bagaikan satu kecap minuman dapat diberi gula dan publik tergoda untuk melihat karya-karya yang berhubungan dengan ide-ide.
Sebagai bagian teknik untuk mengamankan publisitas, perhatian, dan kebaikannya, Rousseau membuat sebagai kebaikan positif semua kebiasaan buruk dan rasa tidak berterimakasihnya. Tampaknya tidak ada kesalahan baginya. Ketika sedang bercerita secara spontanitas, dia adalah seorang yang merencanakan sesuatu dengan hati-hati untuk mencapai apa yang dia mau tanpa memperhatikan orang lain, dan karena dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia adalah manusia yang mempunyai moral terbaik, secara logis orang lain akan lebih menilainya dengan motif yang lebih buruk dibanding dengan dirinya. Oleh karena itu, dalam setiap hubugan dengan orang-orang lain, mereka akan mengambil keuntungan darinya dan dia akan mengambil keuntungan dari mereka. Dasar dari dia bernegosiasi dengan orang lain adalah sederhana: mereka memberi, dia mengambil. Dia membesar-besarkan ini dengan sebuah argumen yang mengejutkan: karena keunikan dia, siapa yang membantunya pada kenyataannya berbuat kebaikan untuk dirinya sendiri. Dia menyusun pola responnya dalam surat kepada Akademi Dijon yang menganugerahan hadiah padanya. Dia menulis, ‘essay saya mengikuti alur kebenaran yang tidak populer, dan dengan kemurahan hati anda menghargai keberanian saya, anda telah menghargai diri anda sendiri lebih. Ya, saudara-saudara, apa yang anda lakukan untuk kejayaan saya ini adalah mahkota kehormatan yang dianugerahkan pada anda sendiri’. Rousseau mengunakan teknik yang sama ketika kemasyurannya membuatnya mendapat sambutan ramah dari orang-orang. Sungguh ini menjadi watak keduanya. Pertama-tama dia menekankan bahwa kebaikan hati semacam itu tidak lebih daripada haknya. ‘Sebagai orang sakit, saya punya hak kemanusian karena mereka hutang hak kepada siapa orang yang sakit’. Atau ‘ saya ini miskin dan …berhak kebaikan hati.’
Sebagaimana telah ditulis oleh penulis biografinya, Rousseau selalu menyusun sedikit jebakkan untuk orang. Dia akan menekankan kesulitan dan kemiskinannya, kemudian ketika orang menawarkan bantuan, dia akan membuat kejutan atau bahkah hal yang tidak terhormat. ‘Tawaranmu membekukan hatiku. Bagaimana anda tidak paham pada kepentingan anda sendiri ketika anda mencoba memberikan pelayan selain sebagai seorang teman.’ Dia menambahkan: ‘Saya bukan tidak ingin mendengar apa yang engkau tawarkan, asalkan anda menghargai bahwa saya bukan untuk dijual.’ Orang yang akan mejadi tuan rumah dibuat serba salah, dan kemudian membuat jawaban dengan mengunakan istilah-istilah yang sesuai dengan istilah Rousseau. Ini merupakan ketrampilan psikologis dari Rousseau untuk membujuk orang. Dia menulis kepada Duc de Montmorency-Luxembourg yang meminjamkam sebuah rumah yang besar pinggiran kota Paris: ‘Saya tidak memuji atau berterimkasih pada anda. Tetapi saya tinggal di rumah anda. Setiap orang mempunyai bahasanya sendiri – saya berkata segala sesuatunya adalah milik saya.’ Skenarionya berjalan dengan baik, Duc de Montmonercy menjawab secara apologetis, ‘bukan anda yang berterimakasih kepada kami, tetapi Mashal dan Saya yang berhutang pada anda’.
Akan tetapi Rousseau tidak dipersiapkan hanya untuk hal-hal yang menyenangkan saja. Dia terlalu rumit dan menarik untuk itu. Bersamaan dengan serangkain kalkulasinya yang keras kepala dan dingin, ada elemen paranoia, semacam sakit mental yang penderitanya berkeyakinan bahwa orang lain ingin mengancamnya. Ini membuat dia tidak dapat hidup dengan nyaman. Dia bertengkar hebat dan bahkan secara permanen dengan orang-orang yang dekat dengannya dan khususnya orang-orang yang telah menolong dan melindunginya Dan setelah meneliti serangkain cerita tentang dirinya secara berulang-ulang dan menyakitkan bukan tidak mungkin tanpa sampai pada kesimpulan bahwa dia adalah orang yang sakit mental. Sakitnya ini tercampur rekat dengan pemikirannya yang jenius dan hebat, dan kombinasi ini menjadi sangat berbahaya baik bagi Rousseau maupun bagi orang lain. Pendirian tentang perilakunya yang selalu benar dan sangat bermoral adalah gejala utama dari sakitnya ini. Dan jika Rousseau tidak memiliki bakat yang baik, ini mungkin telah dapat terobati dengan sendirinya atau, paling buruk, menjadi tragedi pribadinya. Tetapi bakat luar biasanya sebagai seorang penulis membuat dirinya dapat diterima, menjadi selebriti dan bahkan populer. Ini adalah bukti bahwa pendiriannya kalau dia itu selalu benar bukanlah pertimbangan yang subjektif tetapi itu berasal berasal dari dunia yang terpisah, tentu, dari musuh-musuhnya.
Musuh-musuhnya ini kebanyakan adalah dulu teman-temannya atau orang-orang yang membantunya yang (Rousseau beralasan setelah dia bertengkar dengan mereka) mencari kelemahan musuh-musuhnya itu untuk mengeksploitasi atau menghancurkannya. Makna dari persahabatan tanpa pamrih adalah hal yang asing buat Rousseau. Karena dia merasa orang yang lebih baik dari orang lain, secara teori ini tidak dapat dirasakan oleh orang lain. Tindakan-tindakan dari semua ‘teman-teman’nya dianalisa secara hati-hati oleh dia sejak dari awal, dan pada saat mereka membuat langkah yang salah, Rousseua berada diatas mereka. Rousseau bertengkar dengan Diderot orang dimana Rousseau paling banyak berhutang. Dia bertengkar dengan Grim. Dia telah putus hubungan secara menyakitkan hati dengan Madame d’Épinay, seorang pelindungnya yang paling ramah. Dia bertengkar dengan Voltaire – ini memang hal yang mudah terjadi. Dia bertengkar dengan David Hume, seorang yang membawa Rousseau ke England dan seorang pahlwan yang menyambutnya dan berusaha dengan segala cara untuk membuat kunjungannya ke England sukses dan membuatnya bahagia. Masih banyak lagi cerminan tentang hal itu, misalnya, serperti petengkarannya dengan temannya dari Genewa Dr. Tronchin. Rousseau membuat tanda dari kebanyakan pertengkarannya dengan menulis surat-surat bantahan. Surat-surat ini menjadi diantara karya-karya briliannya yang ditulis dengan sejarah, kronologi yang mengada-ada untuk membuktikan bahwa teman-temannya yang membantunya itu adalah seorang monster. Surat yang dia tulis untuk Hume tertanggal 17 Juli 1766 sepanjang delapan belas halaman folio (dua puluh lima lebar kertas cetak) telah dipaparkan dalam biografi Hume sebagai ‘bersesuai dengan konsistensi logis dari orang gila. Surat itu menjadi dokumen yang paling brilian dan menyenangkan yang pernah dibuat oleh orang yang cacad mental.’
Rousseau secara beransur-ansur sampai pada keyakinan bahwa tindakan-tindakan permusuhan diantara orang-orang yang telah berbuat seolah-olah mencintainya adalah sesuatu yang tidak berdiri sendiri tetapi sebagai bagian dari pola yang berhubungan. Orang-orang tersebut adalah agen yang dalam plot jangka panjang akan menghalangi, menganggu dan bahkan menghacurkannya dan juga merusak karyanya. Dengan mengingat kembali pengalaman hidunya, dia memutuskan bahwa konspirasi telah terjadi ketika dia berumur enam belas tahun. Waktu itu dia menjadi seorang pesuruh kepada Comte de Vercellis. Dia berkata: ‘saya yakin bahwa dari saat ini saya menderita karena sebuah permainan untuk kepentingan rahasia yang akan menghancurkan saya dan membuat saya paham tentang sebuah perasaan ketidaksukaan yang tidak dapat dipahami untuk sebuah perintah jelas yang bertanggung jawab untuk itu.’ Kenyataanya, Rousseau diperlakukan lebih baik oleh penguasa-penguasa Perancis dibanding dengan penulis-penulis lainnya. Hanya ada satu usaha untuk menangkapnya, dan biasanya kepala sensor, Malesherbes, melakukan hal terbaik dengan membantunya untuk mempublikasikan bukunya. Akan tetapi, perasaan Rousseau bahwa dia adalah korban dari sebuah jaringan internasional muncul, khususnya, selama kunjungannya di England. Dia menjadi yakin bahwa Hume pada saat itu menjadi orang pembuat plot konspirasi yang dibantu oleh banyak asisten. Pada suatu saat, Rousseau menulis kepada Lord Camden, Konselor, yang menjelaskan bahwa hidupnya dalam bahaya dan meminta tentara untuk mengeluarkannya dari negara itu. Tetapi para Konselor waktu itu tidak terbiasa menerima surat dari orang gila, dan Camden tidak mengambil tindakan apapun. Tindakan-tindakan Rosseau di Dover pada saat sebelum keberangkatan sangat histeris, berlari diatas geladak kapal, mengunci diri di kabin, dan meloncat-loncat ditempat dan menunjuk kumpulan orang dengan klaim fantastis bahwa Thérèse adalah bagian dari konspirasi plot dan mencobanya untuk tetap di England dengan paksa.
Setelah kembali ke Perancis, dia membuat poster di depan pintunya yang menyebutkan keluhan-keluhannya tentang berbagai lapisan masyarakat yang melawannya seperti: pendeta, para intelektual, rakyat biasa, para wanita, dan orang-orang Swiss. Dia yakin bahwa Duc de Choiseul, Menteri Luar Negeri Perancis telah membuat konspirasi internasional dan meluangkan waktunya untuk menyusun jaringan luas yang bertugas untuk membuat hidup Rousseau menderita. Peristiwa-peristiwa publik seperti penangkapan Orang Perancis terhadap Corsica dirangkai olehnya menjadi sebuah kisah untuk menulis sebuah konstitusi. Cukup aneh, atas pemintaan Choisell, Rousseau menulis konstitusi yang hampir sama tentang kemerdekaan Polandia untuk kepentiangan orang-orang nasionalis disana. Ketika Choisel diturunkan dari kekuasaan pada tahun 1770, Rousseau cukup gusar: membuat tindakan sinis lainnya. Rousseau mendeklarasikan bahwa dia tidak pernah menemukan alasan-alasan yang real (selain identifikasinya tentang keadilan dan kebenaran) untuk ‘mereka’ menentukan hukuman baginya. Tetapi tidak ada keraguan tentang sebuat plot yang terperinci yang sangat tersembunyi dan tidak tampak: ‘Mereka akan membangun disekelilingku sebuah banguan kegelapan yang tidak dapat ditembus. Mereka akan menguburku hidup-hidup didalam peti jenazah… . Jika saya mengadakan perjalanan, segala sesuatu akan diatur dahulu untuk mengontrol kemana saja saya pergi. Sebuah bisikan kata akan diberikan pada para penumpang, para pengerdara bis, para penjaga rumah…. Hal-hal yang menakutiku akan disebarkan di sepanjang jalanku dimana setiap langkah yang saya ambil, pada segala sesuatu yang saya lihat, hatikku akan tercabik-cabik.’ Karya terakhirnya Dialogues avec moi-même (ditulis mulai 1772) dan Révéries du promeneur solitaire (1776) merefleksikan persekusi-mania ini. Ketika dia menyelesaikan karyanya Dialogues, dia menjadi yakin bahwa ‘mereka’ bermaksud untuk menghancurkannya, pada tanggal 24 Februay 1776 dia pergi ke Katedral Notre Dame dengan maksud mendapatkan perlindungan untuk manuskripnya dan meletakannya di Altar Tinggi. Tetapi gerbangnya terkunci secara misterious. Sindiran! Maka dia membuat enam salinan dan diberikan dengan kekuatan gaib kepada beberapa orang: satu untuk Dr. Johnson, seorang teman yang selalu berstoking biru dan Miss Brooke Boothy dari Lichfield. dan Miss Boothylah orang pertama yang mempublikasikan karya Rousseau tersebut pada tahun 1780. Pada saat itu, Rousseau tentu sudah ada dikuburnya, pasti dia masih yakin bahwa ada ribuan agen yang mengejarnya.
Penderitaan-pendiritaan dari pikiran yang disebabkan karena bentuk kegilaan ini nampak cukup jelas pada Rousseau, dan dari waktu ke waktu, tidak mungkin untuk tidak menaruh kasihan padanya. Dengan demikian, dia tidak dapat disingkirkan. Dia adalah salah seorang penulis yang paling berpengaruh yang pernah ada. Dia menghadirkan dirinya sebagai sahabat bagi kemanusiaan dan khususnya sebagai pemengang prinsip kebenaran dan kebajikan. Dia dulu dan sungguh sampai sekarang masih secara luas diterima semacam itu. Oleh karena itu, perlu bagi kita untuk melihat lebih dekat pada tindakannya sebagai penyampai kebenaran dan kebajikan’. Apa yang kita temukan? Issu kebenaran sangat significan karena setelah kematiannya, Rousseau terkenal dengan karyanya Confessions. Ini merupakan usaha pribadi memproklamirkan diri untuk menceritakan seluruh kebenaran hakiki dari kehidupan manusia, dalam satu hal, keberanan ini yang tidak pernah ada kecuali diusahakan. Buku ini adalah bentuk baru dari autobiografi kebenaran-ultra.
Rousseau membuat klaim absolut untuk kebenaran dari buku ini. Di musim dingin tahun 1770-1771, dia membacakannya di ruangan-ruangan yang diatur dengan baik selama lima belas sampai tujuh belas jam dengan istirahat makan. Korban-korban serangannya salah satunya adalah Madame d’Épinay. Madame d’Épinay meminta penguasa untuk menghentikan acara pembacaan tersebut. Rousseau setuju untuk berhenti tetapi pada akhir bacaannya dia menambahkan kata-kata: ‘Saya telah mengatakan kebenaran. Jika seseorang mengetahui fakta-fakta yang bertentang terhadap apa yang telah saya katakan, bahkan jika fakta-fakta itu telah dibukti seribu kali, semuanya adalah bohong dan semu……(siapa saja) yang mengamati dengan matanya sendiri sifat saya, karakter saya, moral, kecenderungan, kesenangan, kebiasaan saya dan dapat percaya kepada saya bahwa orang yang tidak jujur itu adalah dia sendiri, orang yang layak dicekik lehernya.’ Hal ini membuat pendengar diam terpana.
Rousseau membesar-besarkan julukannya menjadi penyampai kebenaran dengan mengklaim mempunyai memori yang hebat. Lebih penting, dia menyakinkan para pembaca dengan mengatakan bahwa dia ikhlas menjadi orang pertama mengungkapkan kehidupan seksnya secara terperinci, bukan dalam spirit untuk mengungkapkan keperkasaan, tetapi sebaliknya dengan rasa malu dan keengganan. Sebagaimana dia sepantasnya katakan, dengan mengacu kepada ‘labyrin kotor dan hitam’ tentang pengalaman kehidupan seksnya, ‘Ini bukan tentang kejahatan apa yang paling berat untuk dikatakan, tetapi tentang apa yang membuat kita merasa gila dan malu.’ Tetapi sejauh mana kemurnian dari keengganannya? Di Turin, ketika dia muda, dia berjalan-jalan di jalan gelap dan menampakan pantatnya telajang kepada para wanita: ‘Kesenangan bodoh yang saya pernah lakukan dalam menampakkannya didepan mata-mata yang tidak dapat didiskripsikan.’ Rousseau adalah pemapar yang alamiah dalam hal seks dan juga dalam hal-hal lain, dan ada kesenangan tersendiri dalam cara dia memaparkan kehidupan seksnya. Dia menunjukan kejantanannya, bagaimana dia menikmati di pukul pantatnya yang telanjang oleh saudara perempuan seorang pastor yang strik, Mademoiselle Lambercier, karena sengaja berbuat nakal agar dihukum, dan juga menyarankan kepada saudara tuanya, Mademoiselle Gorton, untuk memukulnya juga: ‘terbaring di kaki seorang nyonya rumah yang sombong, mematuhi perintahnya, meminta maaf – cara ini untuk saya merupakan sebuah kenikamatan yang indah’. Dia menceritakan bagaimana sebagai seorang anak, dia melakukan mastubasi. Dia mempertahankan ini karena hal ini mencegah seorang anak muda dari terjangkiti penyakit dan karena, ‘kebiasaan ini membuat orang yang penakut dan pemalu menemukan sesuatu yang sangat nyaman lebih dari satu kenikmatan khayalan-khayalan yang hidup: ini memungkinkan bagi para pelakunya menjalaninya dengan semua wanita dalam hasratnya dan membuat keindahan memberikan keyamanan yang mengoda mereka tanpa harus memperoleh ijinnya.’ Dia memberikan gambaran sebuah usaha mengodanya dari seorang homoseksual di rumah sakit Turin. Dia mengakui bahwa dia telah memceritakan kesenangan Madame de Warens dengan tukang kebunnya. Dia mendiskripsikan bagaimana dia tidak mampu melakukan hubungan cinta dengan seorang gadis ketika dia tahu bahwa gadis itu tidak mempunyi puting susu sebelah, dan mencatat tindakannya tanpa melibatkan dia, ‘membiarkan wanita sendirian dan belajar matematika’. Dia menekankan melakukan masturbasi dalam kehidupannya belakangan karena lebih nyaman dibanding dengan mencari kehidupan cinta yang aktif. Dia memberikan kesan sebagian sengaja, sebagian tidak sengaja, bahwa sikapnya terhadap seks tetap kekanak-kanakan pada intinya.
Pengakuan-pengakuan yang rusak ini membangun kepercayaan terhadap pandangan Rousseau tentang kebenaran, dan dia memperkuatnya dengan menghubungkannya dengan episode-episode non-seksual lainnya yang memalukan seperti mencuri, berbohong, pengecut dan pembelotan. Tetapi ada elemen kebohongan disini. Tuduhan-tuduhan atas dirinya digunakan untuk membuat tuduhan-tuduhan yang dibuat sesudahnya untuk menyerang musuh-musuhnya menjadi jauh lebih meyakinkan. Dideriot mengamatinya dengan geram, ‘dia mendiskripsikan diri dengan cara yang menjijikan untuk membuat tuduhan yang tidak adil dan kasar bahwa orang lain sama dengannya.’ Lebih-lebih lagi, cara penuduhan terhadap diri sendiri adalah bersifat memperdaya karena dalam setiap tuduhan dia mengikutinya dengan pengakuan terus terang yang dipresentasikan dengan cara membuktikan bahwa tuduhan itu bukan suatu kesalahan sehingga pembaca akhirnya bersimpati kepadanya dan memberikan kredit atas kejujurannya. Kemudian lagi, kebenaran-kebenaran yang dipresentasikan oleh Rousseau sering menjadi kebenaran yang hanya separuh benar: kejujurannya yang selektif dalam beberapa hal merupakan aspek yang paling tidak jujur, baik itu dalam bukunya Confessions maupun dalam surat-suratnya. Fakta-fakta yang dia akui secara terus terang dalam pandangan sarjana modern tampak tidak akurat, menyimpang atau bahkan tidak ada. Ini kadang-kadang sangat jelas bahkan hanya dengan melihatnya dari bukti-bukti internal saja. Demikaian pula, dia memberikan pertimbangan yang sangat berbeda tentang homoseksual dalam karya Émile dan Confessions. Ceritanya secara keseluruhan adalah sebuah mitos saja. Dia memberikan informasi tentang tahun kematian ayahnya salah dan mendiskripsikannya ‘sekitar enampuluh’, yang pada kenyataannya dia adalah tujuh puluh lima. Dia berbohong tentang keadaan dia selama tinggal di rumah sakit Turin, yang merupakan salah satu periode kritis dalam hidupnya. Hal tersebut muncul secara sedikit demi sedikit dan mengambarkan bahwa tidak ada penyataan dalam Confessions yang dapat dipercaya jika tidak didukung dengan bukti-bukti eksternal. Sungguh sangat sulit untuk tidak percaya kepada salah ahli kritik modern, J.H. Huizinga, yang mengkritik karya Rousseau dan menyatakan bahwa klaim-klaim kuat dalam Confessions tentang kebenaran dan kejujuran membuat distorsi dan kesalahan yang begitu memalukan: ‘Semakin orang membacanya secara penuh perhatian dan membaca lagi, semakin dia memahami isinya, semakin banyak lapisan celanya menjadi jelas kelihatan’. Apa yang membuat ketidakjujuran Rousseau berbahaya – apa yang membuat temuannya ditakuti oleh bekas teman-temannya – adalah ketrampilan dan kecerdasannya yang kejam dalam mempresentasikan karyanya. Sebagaimana penulis biografinya, Professor Crocker menuliskannya: ‘Semua sebab pertengkarannya (seperti dalam episode Vinisian) mempunyai keyakinan, kefasihan dan udara keikhlasan yang menarik, kemudian fakta-fakta tersebut muncul menjadi sebuah kejutan.
Banyak pengabdian Rousseau untuk kebenaran. Apakah kebajikannya? Dia berkata bahwa dia lahir untuk mencintai, dan dia mengajarkan doktrin cinta secara kontinyu dibanding dengan para rohaniawan. Kemudian seberapa baik dia mengungkapkan cintanya dengan orang yang terdekat dengannya? Kematian ibunya membuatnya kehilangan kehidupan normalnya dari sejak lahir. Dia tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadapnya dalam berbagai hal karena dia tidak pernah tahu ibunya. Dalam hal lain, dia menunjukkan tak ada perasaan kasih, atau benar-benar berkepentingan terhadap anggota keluarga yang lain. Kematian ayahnya tidak berarti apa-apa baginya dan kematiannya tidak lain hanyalah kesempatan baginya untuk mendapat warisan. Dalam hal ini perhatian terhadap saudaranya yang hilang muncul setidaknya untuk membuktikan bahwa dia telah mati, sehingga uang keluargannya dapat dapat menjadi miliknya. Dia melihat keluarganya berdasarkan uang. Dalam Confessions, dia mendiskripsikan, ‘salah satu ketidakkonsistenan saya yang nyata – bertemunya ketamak kotor dengan kejijikan terhadap uang.’ Tidak ada banyak bukti tentang kejijikannya terhadap uang dalam hidupnya. Ketika warisan keluargannya jatuh ketangannya, dia mengambarkan waktu menerima surat wasiatnya. Dia berusaha semampunya untuk menunda membuka surat tersebut sampai hari berikutnya. Kemudian: ‘Saya membukannya dengan sengaja secara pelan-pelan dan menemukan surat pesanan uang didalamnya. Saya pertama-tama merasakan banyak kebahagian tetapi saya bersumpah yang paling menyenangkan adalah telah menguasai diri saya sendiri.’
Jika sikap-sikap diatas adalah sikap terhadap keluargannya yang sebenarnya, bagaimana dia memperlakukan ibu asuhnya, Madame de Warens? Jawabannya adalah : pelit. Madame de Warans telah menyelamatkannya dari kemelaratan tidak kurang dari empat kali, tetapi ketika Rousseu kemudian menjadi kaya dan Madame de Warens menjadi miskin, Rousseau hampir tidak pernah membantunya. Menurut hitungan Rousseau, dia telah mengirim ‘sedikit’ uang ketika dia diwarisi harta keluarganya pada tahun 1740-an, tetapi dia menolak untuk memberinya lebih dengan alasan uang tersebut hanya akan diambil oleh ‘penipu’ yang hidup disekelilingnya. Ini adalah alasan. Beberapa saat kemudian Madame de Warens meminta bantuan uang kepadanya namun tidak ada jawaban sama sekali. Dia menghabiskan masa dua tahun terakhirnya dalam kesengsaraan dan kematiannya pada tahun 1761 mungkin disebabkan karena kekurangan gizi. Comte de Charmette yang tahu keduanya, benar-benar mengutuk Rousseau karena kegagalannya untuk kembali menjengut Madame de Warens atau setidaknya sebagai bagian dari biaya orang yang telah membantu dan melindunginya dulu. Rosseau kemudian berhubungan lagi, dalam karyanya Confessions , dengan mengatakannya sebagai ‘ibu dan wanita terbaik’. Dia mengklaim tidak menulis surat untuknya karena dia tidak mau melihat Madame de Warens menderita karena mengetahui masalah-masalahnya. Dia mengakhiri: Pergi, rasakan buah-buah kemuliaanmu dan siapkanlah tempat untuk muridmu serperti yang dia harapkan yang akan dia tempati disampingmu suatu hari nanti! Berbahagialah dalam kemalanganmu karena Surga telah meminjamkan kacamata kejamnya padamu.’ Itulah Rousseau yang memperlakukan kematiannya dalam konteks yang benar-benar egosentris.
Apakah Rousseau mampu mencintai wanita tanpa pesanan kuat untuk mementingkan diri sendiri? Menurut pengakuannya sendiri, ‘cinta pertamaku dan hanya satu-satunya adalah Sophie, Comtesse d’Houdetot, adik ipar dari orang yang banyak membantunya, Madame d’Épinay. Rousseau mungkin telah mencintai Sophie, tetapi Rousseau berkata bahwa dia telah memberikan peringatan dalam surat cintanya yang mana publikasi dari surat-surat itu telah merusak citra Sophie disebabkan karena dia. Dengan Thérèse Levarseur, seorang tukang cuci yang berumur 23 tahun yang dijadikan kekasihnya pada tahun 1745, dan tetap bersamanya selama tiga puluh tiga tahun sampai kematian Rosseau. Rousseau berkata bahwa dia tidak pernah merasakan gemerlapnya cinta padanya…..kebutuhan sesusual yang saya puas dengannya adalah hanyalah seksual semata dan tidak ada hubungan dengannya secara individual. Dia menulis, ‘Saya berkata kepadanya bahwa saya tidak akan pernah meninggalkannya dan juga tidak pernah mengawininya.’ Seperempat abad kemudian, Rosseau mengadakan perkawinan semu dengannya didepan beberapa temannya tetapi mengunakan kesempatan tersebut untuk membuat pidato yang menyatakan bahwa masa depan dan orang-orang yang akan hidup kemudian akan mendirikan patung untuknya dan ‘pada saat itu, bukan kehormatan kosong telah menjadi seorang teman dari Jean-Jacques Rousseau.’
Dalam satu hal Rousseau membenci Thérèse sebagai orang kasar, pelayan buta huruf dan membenci dirinya sendiri karena bergaul dengan dia. Rousseau menuduh ibunya tamak dan saudara laki-lakinya mencuri empat puluh dua baju bagusnya (Tidak ada bukti bahwa keluarga Thérèse seburuk seperti yang Rousseau gambarkan). Dia berkata bahwa Thérèse tidak hanya tidak dapat membaca atau menulis tetapi juga tidak tahu mengatakan jam berapa dan tidak mengerti hari itu hari apa. Rosseau tidak pernah mengajaknya keluar dan ketika Rosseau mengundang kawan-kawannya makan malam Thérèsa tidak diijinkan untuk duduk bersama. Dia membawa masuk makanan kedalam dan Rousseau ‘bersenang-senang diatas penderitaanya’. Untuk menghibur Duchesse de Montmorency-Luxembourg Rousseau mengkompilasi sebuah katalog tentang pekerjaan Thérèse. Bahkan beberapa teman besarnya merasa terkejut dengan cara penghinaan yang Rousseau gunakan untuk Thérèse. Orang-orang pada saat itu berpendapat berbeda-beda sehubungan dengan Thérèse ini, sebagian melihatnya sebagai gosip saja. Sebagian lain menggambarkan Thérèsa dalam kondisi terhitam. Tetapi Thérèse mempunyai banyak pembela juga.
Sungguh, Rousseau juga memberikan pujiannya kepada Thérèse sebagai: ‘wanita yang berhati malaikat’, ‘lembut dan baik hati’, ‘konselor yang hebat’, ‘gadis sederhana tanpa kegenitan’. Rousseau mendapatinya sebagai seorang yang ‘takut-takut dan mudah didominasi’. Pada kenyataanya tidak jelas sama sekali apakah Rousseau memahaminya atau mungkin karena dia terlalu terobsesi untuk mempelajari pribadi Thérèse. Gambaran yang paling dapat dipercaya adalah yang diberikan oleh James Boswell, orang yang telah mengujungi Rousseau lima kali pada tahun 1764 dan kemudian dia melarikan Thérèse ke England. James mendapati Thérèse sebagai seorang gadis kecil Perancis yang rapi dan menyenangkan. Boswell menyuapnya agar dapat mempunyai akses ke Rousseau dan Boswell mampu membujuk Thérèse untuk memberikan dua surat dari Rousseau untuknya (hanya satu yang ada). Surat tesebut mengungkapkan bahwa hubungan mereka mesra dan intim. Thérèse bercerita kepada Boswell: ‘Saya telah bersama dengan Rousseau selama dua puluh dua tahun. Saya tidak akan menyerah untuk menduduki tempat sebagai Ratu Perancis.’ Sebaliknya, suatu ketika Boswell menjadi teman bepergiannya, dia mengoda Thérèse tanpa kesulitan sedikitpun. Gambaran langkah demi langkah affair nya dipotong dari manuskrip catatan hariannya oleh Badan Sensor Sastra dan gap yang ada ditandai dengan kata-kata ‘Bacaan Tercela’. Namun masih ada yang tersisa satu kalimat yang mana Boswell mencatat kejadian itu di Dover: ‘Kemarin pagi saya masuk ke kamar tidurnya pagi-pagi sekali dan melakukannya sekali: tiga belas kali semuanya’. Dan itu cukup bagi Boswel untuk mengungkapkan bahwa Thérèse merupakan wanita yang mendunia dan jauh lebih rumit dibanding dengan bagaimana orang menganggapnya. Jadi hal yang sebenarnya tampaknya dia mengabdikan diri pada Rousseau dalam segala hal, tetapi dia telah diajari oleh perilaku Rousseau sendiri untuk mengunakan Rousseau sebagaimana Rousseau mengunakan dia. Kasih sayang Rousseau yang terhangat adalah kepada binatang. Boswell mencatat pemandangan bahagianya bermain dengan kucing dan anjingnya. Rousseau memberikan kasih sayangnya kepada anjing dan kucingnya cinta yang tidak pernah diberikan pada manusia. Bahkan Anjing yang dibawa bersamanya ketika ke London hampir-hampir membuatnya tidak hadir dalam pertunjukan Drama Garrick yang telah disusun untuknya di Drury Lane.’
Rousseau menjaga dan bahkah menyayangi Thérèse karena Thérèse dapat melakukan yang binatang tidak dapat melakukan untuknya: memasang selang untuk menghilangkan penyempitannya, misalnya. Rousseau tidak akan pernah memberi toleransi kepada pihak ketiga untuk mencampuri hubungannya: Rousseau menjadi marah, misalnya, ketika sebuah penerbit mengirim Thérèse sepotong baju. Rousseau langsung memveto dengan sebuah rencana akan memberikannya pensiun, yang mungkin akan membuatnya tidak tergantung pada Rousseau lagi. Hampir semua, Rousseaupun tidak akan mengijinkan anak-anak untuk menganggu klaim-klaimnya terhadap Thérèse, dan ini membawanya kearah kejahatan yang paling besar. Karena sebagian besar teori Rousseau terletak pada teori bagaimana cara membesarkan anak – pendidikan adalah tema yang mendasari karyanya Dicours, Emile, Social Contract dan bahkan La Nouvelle Héloïse – ini mengherankan bagaimana kehidupan yang sesungguhnya sangat berbeda dengan apa yang ditulis, Rousseau tidak begitu banyak menaruh perhatian kepada anak. Tidak ada bukti apapun yang membukti bahwa dia meneliti anak-anak untuk membuktikan teorinya. Dia mengklaim tak seorang pun yang menikmati bermain dengan anak-anak melebihi dirinya, tetapi anekdot yang kita buat untuk dia dalam kapasitas ini tidak menyenangkan. Pelukis Delacroix menceritakan dalam Journal (31 Mei 1824) bahwa seorang laki-laki menceritakan kepadanya telah melihat Rousseau di Taman Tuileries: ‘Bola dari seorang anak mengenai kaki sang filsuf. Sang Filsuf marah dan mengejar anak itu denga membawa sepotong tebu.’ Dari apa yang kita tahu tentang karakternya, tidak mungkin Rousseau pernah menjadi seorang ayah yang baik. Berhubungan dengan hal ini, kejutan-kejutan yang menyakitkan akan muncul ketika tahu orang tahu apa yang Rousseau lakukan terhadap anak-anaknya sendiri.
Anak pertamanya dilahirkan Thérèse pada Musim dingin tahun 1746-1747. Kita tidak tahu apa jenis kelaminnya. Bayi itu tidak pernah diberi nama. Dengan (dia berkata) ‘kesulitan yang terbesar di dunia’, dia membujuk Thérèse agar bayi dibuang untuk ‘menyelamatkan kehormatannya’. Thérèse ‘mematuhinya dengan desahan’. Rousseau menepatkan bayinya dalam kotak kardus dan membungkusnya dengan pakai bayi dan meminta kepada bidannya untuk menjatuhkan bukusan itu di Hôpital des Efants-trouvés. Empat bayi lainnya yang dilahirkan Thérèse dibuang dengan cara yang sama. Tak satupun yang diberi nama. Ini kemungkinan bahwa bayi-bayi itu hidup sangatlah tipis karena sejarah dari institusi itu, Hôpital des Efants-trouvés, seperti yang dipaparkan dalam Mercure de France pada tahun 1746 telah kelebihan bayi buangan yang jumlahnya lebih dari 3000 dalam satu tahun. Pada tahun 1758 seperti yang dicatat oleh Rousseau sendiri jumlah totalnya meningkat menjadi 5082. Sampai tahun 1772, jumlah rata-ratanya hampir 8000. Dua pertiga dari bayi tersebut mati pada usia sebelum satu tahun. Empat belas dari seratus bayi dan dari kelima bayi tersebut hidup sampai dewasa, dan hampir semuanya menjadi pengemis dan gelandangan. Rousseau tidak pernah mencatat tanggal lahir dari kelima anaknya tersebut dan tidak pernah tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi terhadap mereka kecuali sekali pada tahun 1761, ketika Thérèse akan menemui ajalnya. Dia berusaha asal-asalan, dan segere berhenti, untuk mencari tahu apa gerangan yang telah terjadi dengan anak pertamanya.
Rousseau tidak dapat menutupi rahasia kelakuannya secara keseluruhan. Pada beberapa kesempatan pada tahun 1751 dan lagi tahun 1761, dia harus mempertahankan diri dengan surat-surat pribadinya. Kemudian pada tahun 1764 Voltaire yang marah karena serangan-serangan sebagai seorang atheis dari Rousseau membuat pamflet anomim yang ditulis kepada seorang Pastor Geneva yang berjudul Le Sentiment des Citoyens. Voltaire secara terbuka menuduh Rousseau membuang lima bayinya, selain itu dia juga menyatakan bahwa Rousseau itu seorang pembunuh dan berpenyakit raja singa. Bantahan-bantahan Rousseua terhadap pamflet ini pada umumnya diterima. Walaupun demikian Rousseu menelurkannya dalam sebuah episode dan inilah yang menjadi faktor penentu bagi Rousseau untuk menulis karyanya Confessions dimana pada dasarnya karya ini dirancang untuk membantah atau memperingan fakta-fakta yang telah diketahui oleh publik. Dua kali dalam karya ini dia mempertahankan diri dalam hal-hal yang berhubungan dengan bayi-bayinya dan dia menulis kembali tentang masalah ini dalam bukunya Reveries dan berbagai surat-suratnya. Secara keseluruhan usahanya untuk mempertahan diri baik secara publik maupun pribadai telah tersebar selama dua puluh lima tahun dan sangat beragam. Namun usaha-usaha tersebut hanya membuat keadaan semakin buruk karena berisi kekasaran dan egoisme yang bercampur dengan kemunafikan. Pertama-tama dia menyalahkan lingkaran intelektual yang atheis diantaranya dia meletakan ide-ide tentang yatim piatu Kemudian dilanjutkan dengan ide mempunyai anak itu ‘tidak nyaman’. Dia tidak mampu untuk melakukannya. ‘Bagaimana mungkin saya dapat memperoleh ketenangan pikiran yang saya perlukan untuk membuat karya-karya saya, jika loteng saya dipenuhi dengan urusan domestik dan kegaduhan anak-anak?’ Dia terpaksa membungkuk-bungkuk dalam karya yang semakin terdegradasi, ‘untuk hal-hal yang remeh semacam itu membuat saya terisi ketakutan yang sudah sewajarnya’, ‘Saya tahu sepenuhnya dengan baik, tak ada seorang ayah yang lebih lembut daripada saya’. Tetapi Rousseau tidak ingin anaknya berhubungan dengan ibunya Thérèse, ‘Saya gemetar untuk memberikan kepercayaan kepada keluarga yang sakit itu’. Secara kasar, bagaimana mungkin orang yang mempunyai karakter moral yang tinggi akan melakukan kesalahan semacam itu? ‘…..cinta saya sangat kuat kepada keagungan, kebenaran, keindahan, dan keadilan; ketakutan saya terhadap setiap keburukan, ucapan ketidakmampuan saya untuk membenci atau melukai atau bahkan memikirkannya; emosi yang indah dan manis dimana saya merasakannya dengan pandangan bahwa semua itu baik, murah hati, dan menyenangkan. Saya bertanya, apakah mungkin semuanya ini dapat setuju dalam hati yang sama dengan keburukan moral yang menginjak-injak dibawah kakinya hal yang terindah dari kewajiban-kewajiban itu, tanpa sedikitpun keberatan? Tidak! Saya merasa dan mengatakan dengan jelas dan tegas - itu tidak mungkin! Tidak pernah dalam sedetik hidupnya, Jean-Jacques menjadi seorang laki-laki tanpa perasaan, tanpa rasa kasih, atau seorang ayah yang dibuat-buat.’
Berdasarkan kebajikannya sendiri, Rousseau merasa berkewajiban untuk terus melanjutkan dan mempertahankan semua tindakan-tindankannya dengan dasar yang positif. Dalam hal ini, hampir secara kebetulan, Rousseau membawa kita langsung kedalam pertimbangan hati, baik tentang masalah pribadinya maupun filosi politiknya. Benar untuk mendudukan desertasi tentang anak-anaknya tidak hanya karena itu merupakan satu-satunya contoh yang paling menonjol dari perasaan tidak berperikemanusiaannya tetapi itu karena juga merupakan bagian organis dari proses menghasilkan teorinya tentang politik dan peranan negara. Rousseau menganggap dirinya sebagai anak buangan. Sejuah itu, dia tidak pernah benar-benar dibesarkan oleh orangtuanya, tetapi dia tetap menjadi anak yang mandiri sepanjang hidupnya, berjalan dari Madame de Warens yang berlaku sebagai ibunya sampai dengan Thérèse sebagain orang yang merawatnya. Ada banyak tulisan dalam bukunya Confessions dan masih banyak lagi dalam surat-suratnya yang menekankan tentang elemen anak. Banyak orang yang telah berhubungan dengan dia – Hume misalnya – melihat Rousseau sebagai seorang anak. Mereka mulai berpikir tentang Rousseau sebagai seorang anak yang tidak membahayakan dan dapat diatur dengan pertimbangan jika mereka berhubungan dengan anak nakal dan cerdas. Karena Rousseau merasa (dalam beberapa hal) sebagai seorang anak, ini membuat dia tidak dapat membesarkan anak-anaknya sendiri. Sesuatu harus mengantikannya dan sesuatu itu adalah Negara dalam bentuk rumah yatim-piatu.
Oleh karena itu, Rousseau berargumen bahwa apa yang dia lakukan adalah ‘sebuah rencana yang masuk akal dan baik.’ Itu benar-benar sama dengan apa yang telah disampaikan oleh Plato. Anak-anak akan ‘menjadi lebih baik jika tidak dibesarkan dengan kelembutan karena itu akan membuatnya kuat dan sehat.’ Mereka akan ‘menjadi jauh lebih bahagia dibanding ayah-ayah mereka’. Rousseau menulis, ‘Saya berkeinginan dan terus tetap berkeinginan untuk dapat dibesarkan dan diasuh dengan cara mereka itu.’ ‘Seandainya saya boleh mempunyai keberuntungan yang sama dengan mereka.’ Pendeknya, dengan mentransfer tangungjawabnya kepada negara, Rousseau berkata, ‘Saya pikir saya telah melakukan tindakan sebagai seorang warga negara dan seorang ayah dan saya melihat diri saya sendiri sebagai anggota dari Republik Plato’.
Rousseau menegaskan bahwa dengan menelurkan perilaku terhadap anak-anaknya semacam itu akhirnya menuntun dia untuk memformulasikan teori pendidikan yang tuangkan dalam bukunya Émile. Hal ini juga membantunya dalam menulis bukunya Social Contract, yang dicetak pada tahun yang sama. Bermula dari sebuah proses justifikasi diri pribadi dalam hal tertentu – serangkaian alasan-alasan pemikiran cepat dan sakit karena perilakunya sendiri yang mana dia pasti tahu itu tidak alami – secara berangsur-angsur berubah, karena pengulangan-pengulangan dan tumbuhnya harga diri yang menguat keyakinannya, menjadi dalil bahwa pendidikan adalah kunci peningkatan moral dan peningkatan sosial. Karena itu adalah kunci peningkatan moral dan sosial maka itu adalah kewajiban dari Negara. Negara harus membentuk pemikiran dari semua warga negara, tidak hanya pemikiran anak-anak (seperti yang digambarkan Rousseau dalam institusi yatim-piatu) tetapi juga pemikiran warga negara yang dewasa. Dengan serangkaian logika moral yang remeh, kesalahan Rousseau sebagai orangtua dihubungkan dengan pengembangan ideologinya tentang negara totaliter masa depan.
Kekacauan selalu melingkupi ide-ide politik Rousseau kerana dia dalam beberapa hal adalah seorang penulis yang tidak konsisten. Dalam beberapa bacaan dalam karyanya dia nampak menjadi seorang yang konsevatif yang menentang revolusi: ‘Berpikir tentang bahaya-bahaya dari pengerakan masa’. ‘Orang-orang yang membuat revolusi hampir selalu berakhir dengan membawa kepada dirinya sendiri godaan-godaan yang membuat rantai-rantai mereka lebih berat dari sebelumnya.’ ‘Saya tidak akan berhubungan dengan plot revolusi yang selalu mengarahkan pada ketidakteraturan, kekerasan dan pertumpahan darah.’ ‘Kebebasan dari keseluruhan ras manusia tidak hanya bernilai satu nyawa manusia.’ Tetapi disisi lain tulisan-tulisannya juga mengandung kebencian radikal, ‘Saya benci keagungan, saya benci kelas mereka, kekasaran mereka, prasangka mereka, kepicikan mereka, semua sifat buruk mereka.’ Dia menulis kepada salah satu wanita bangsawan, ‘ini kekayaan kelas, kelasmu, yang mencuri dariku, roti anak-anaku,’ dan dia mengakui ‘mempunyai kebencian tertentu kepada orang sukses dan kaya, seolah-olah kekayaan dan kebahagian mereka diperoleh karena mengorbankan saya. ’Orang-orang kaya adalah serigala-serigala lapar yang sekali saja mereka merasakan daging manusia, akan menolak semua makanan pengantinya.’ Banyak sekali aforismenya dengan nada radikal kuat yang membuat buku-bukunya sangat menarik khususnya bagi anak muda. “Buah-buah dari bumi milik kita semua, dan bumi itu sendiri bukan milik siapa-siapa.’ ‘Manusia lahir bebas dan dimana-mana saling berhubungan.’ Entrinya dalam Encyclopédie pada ‘Political Economy’ meringkas sikap kelas pemerintah: ‘Kamu membutuhkan saya karena saya kaya dan kamu miskin. Mari kita buat perjanjian: Saya ijinkan kamu untuk mendapat kehormatan melayani saya, asalkan kamu memberikan pada saya apa saja yang membuat kamu menghalangi saya untuk memerintahmu.’
Walaubagaimanapun, kita sudah mengetahui keadaan yang Rousseau ingin ciptakan, pandangannya bermula untuk melengkapi satu sama lain. Perlu untuk menganti masyarakat yang ada dengan sesuatu yang benar-benar berbeda dan egaliter. Tetapi untuk membuat ini agar tercapai, kekacauan revolusioner tidak dapat dicegah. Orang-orang kaya dan orang yang mempunyai hak istimewa, sebagai kekuatan pemerintah, akan diganti oleh Negara yang mempunyai Jenderal Will dimana semuanya membuat janji untuk mematuhinya. Kepatuhan semacam itu akan menjadi naluriah dan suka rela karena Negara dengan sebuah prosses sistematis mengunakan teknik budaya akan menanamkan nilai-nilai kebajikan untuk semua warganya. Negara adalah ayah, the patrie dan semua warga negaranya adalah anak-anaknya dari rumah yatim piatu. (oleh karena itu, ucapan Dr. Johson yang memotong semua alur pikiran Rousseau yang menyesatkan, ‘Patriotisme adalah pengungsian terakhir dari seorang yang jahat). Dan benar anak-anak negera, tidak seperti anak Rousseau sendiri, setuju untuk memberikan kepada negara secara bebas perjanjian itu. Dengan demikian melalui keinginan kolektifnya, mereke merupakan legitimasinya, setelah itu, mereka tidak mempunyai hak untuk merasa terhalang, karena telah menginginkan hukum, mereka harus cinta dengan kewajiban-kewajiban yang diberikan padanya.
Meskipun Rousseau menulis tentang Jendral Will berkenaan dengan kebebasan, hal tersebut secara esensial merupakan sebuah instrument otoriter, sebuah bayangan awal dari ‘demokrasi terpusat’nya Lenin. Hukum dibawah Jendral Will harus, secara definisi, mempunyai otoritas moral. ‘Rakyat yang membuat hukum untuk diri mereka sendiri tidak mungkin tidak adil’. ‘Jenderal Will selalu benar.’ Lebih-lebih lagi, asalkan Negara ‘bermaksud baik’ (tujuan jangka panjangnya yang diinginkan), inteprestasinya, Jenderal Will dapat dibiarkan menjadi pemimpin karena ‘rakyat tahu dengan baik kalau Jenderal Will akan selalu memenangkan keputusan yang paling kondusif untuk kepentingan publik.’ Oleh karena itu, jika ada individu yang beroposisi dengan Jendral Will, itu merupakan kesalahan: ‘Ketika pendapatnya bertentangan dengan kemenangan saya sendiri, ini hanya menunjukkan bahwa saya salah dan apa yang saya pikirkan tentang Jenderal Will tidaklah begitu.’ Sungguh ‘jika pendapat saya benar berlaku pada suatu waktu, saya telah mencapai apa yang bertentangan dengan keinginan saya dan oleh karena itu, saya harus tidak bebas.’ Disini kita berada hampir sama dengan di wilayah panas Arthur Koestler dalam bukunya Darkness at Noon atau bukunya George Orwell ‘Newspeak.’
Negara menurut Rousseau tidak hanya otoriter, tetapi juga totaliter karena negara mengatur setiap aspek kehidupan manusia, termasuk pemikiran. Dalam bukunya Social Contract, setiap pribadi diwajibkan untuk ‘memindahkan semua haknya ke komunitas secara keseluruhan (yaitu Negara).’ Rousseau berpendapat bahwa ada sebuah konflict tak dapat dihilangkan antara sifat manusia yang mementingkan diri sendiri dan tugas sosialnya, antara Manusia dan Negara. Dan itu membuat manusia menderita. Fungsi dari kontrak sosial dan Negara adalah untuk membuat manusia satu keseluruhan: ‘Membuat manusia itu satu, dan kamu akan membuatnya bahagia. Berikan semua kepada Negara, atau biarkan dia semua pada diri mereka sendiri. Tetapi jika kamu membagi hatinya, kamu telah merobeknya menjadi dua.’ Oleh karena itu, kamu harus memperlakukan warga negara sebagai anak dan mengontrol pertumbuhan dan pikiran mereka untuk menanamkan ‘hukum sosial kedalam hati mereka.’ Mereka kemudian menjadi ‘manusia sosial karena sifat-sifatnya dan warga negara karena perilakunya.’ Mereka adalah satu, mereka akan baik, mereka akan bahagia, dan kebahagian mereka akan menjadi kebahagiaan Republik.’
Prosedur ini mempersyaratkan penyerahan total. Sumpah kontrak sosial asli dalam konstitusi proyeksi untuk Corsica berbunyi: ‘Saya mengikat diri saya sendiri, tubuh, harta, kemauan dan semua kekuatan saya, kepada Negara Corsica, mengakui kepemilikan negara atas saya, saya sendiri dan apa-apa yang bergantung kepada diri saya.’ Dengan demikian, Negara akan ‘memiliki manusia dan seluruh kekuatannya’ dan mengontrol setiap aspek kehidupan sosial dan ekonominya yang mana ini akan menjadi tidak nyaman, anti-kemewahan dan anti-perkotaan, rakyat tidak diijinkan masuk ke kota kecuali mendapat ijin khusus. Dalam beberapa hal, Negara Rousseau yang direncanakan untuk Corsica menyebabkan lahirnya Rejim Pol Pot yang mencoba menciptakan negara semacam itu di Kamboja, dan ini tidaklah begitu mengherankan karena pemimpin-pemimpin rejim itu dididik di Paris dan telah menyerap semua ide-ide Rousseau. Tentulah, Rousseau sangat yakin bahwa negara semacam itu akan diperdebatkan karena rakyatnya akan dilatih untuk menyukai negara. Dia tidak mengunakan istilah ‘brainwash’ tetapi dia menulis: ‘Mereka yang mengontrol opini rakyat, mengontrol juga tindakan-tindakan mereka’. Kontrol semacam itu dibangun dengan memperlakukan warga negaranya, dari sejak bayi, sebagai anak-anak negara, yang dilatih untuk ‘mempertimbangkan diri mereka sendiri hanya berhubungan dengan Lembaga Negara.’ ‘Untuk tidak menjadi apa-apa kecuali dengan negara, mereka tidak akan menjadi apa-apa kecuali untuk negara. Negara akan memiliki mereka semua dan negara menjadi milik mereka semua.’ Lagi, ini telah menyebabkan lahirnya doktrin sentral Fasis Mussolini, ‘Segala sesuatu didalam Negara, tidak ada satupun diluar Negara dan tidak ada satupun melawan Negara’. Dengan demikian proses pendidikan merupakan kunci sukses dari teknik pembudayaan yang dibutuhkan untuk membuat Negara dapat diterima dan sukses. Poros dari ide-ide Rousseau ini adalah warga negara sebagai anak dan Negara sebagai orangtua, dan dia menekankan bahwa pemerintah harus sepenuhnya membesarkan semua anak-anaknya. Oleh karena itu, dia mengusulkan proses politik bermula pada kedudukan yang yang sangat sentral dari keberadaan manusia dengan membentuk sebuah legislator yang juga merupakan pendidik yang mampu memecahkan semua masalah-masalah manusia dengan menciptakan Manusia-Manusia Baru. Rousseau menulis, ‘Segala sesuatu pada dasarnya tergantung pada politik.’ Kebajikan adalah produk dari pemerintah yang baik. Proses politik dan jenis negara baru yang dihasilkannya merupakan obat universal untuk sakitnya umat manusia. Politik akan melakukan semuanya. Dengan demikian Rousseaulah yang menyiapkan blueprint khayalan dan kebodohan prinsip pada abad dua puluh ini.
Reputasi Rousseau selama hidupnya dan pengaruhnya setelah kematiannya memunculkan banyak pertanyaan yang menganggu tentang mudah tertipunya manusia dan juga tentang kebiasaan manusia yang menolak untuk mengakui kesalahnya walupun sudah ada bukti. Hal-hal yang ditulis oleh Rousseau sangat tergantung pada lenkingan klaimnya bahwa dia tidak hanya menjadi orang bijak, tetapi menjadi orang yang paling bijak pada masanya. Mengapa klaim ini tidak hancur dalam kehinaan dan celaan ketika kelemahan dan kebusukannya telah menjadi tidak hanya pengetahuan publik, tetapi juga menjadi bahan debat interansional? Walau bagaimanapun, orang-orang yang membantah Rousseau bukanlah orang-orang asing atau lawan-lawan politiknya tetapi kawan-kawan lama dan teman sejawatnya yang telah membantu dia dalam berbagai hal. Bantahan-bantahan mereka serius dan merupakan sebuah dakwaan koletif yang menghancurkan. Hume, yang pernah berpikir bahwa Rousseau itu ‘lembut, sederhana, penuh kasih, peka tanpa pamrih, memutuskan dengan dasar pengalaman panjangnya bahwa Rousseau adalah ‘monster yang melihat dirinya sendiri sebagai satu-satunya orang penting di alam semesta.’ Diderot, setelah lama berkenalan, menyimpulkan Rousseau sebagai pembohong, Sombong seperti setan, orang tak tahu berterimakasih, kasar, munafik, dan penuh dengan kedengkian. Bagi Grimm, Rousseau adalah ‘sangat menjijikan’. Bagi Voltaire, dia adalah ‘monster dari kesombongan dan kebusukan.’ Yang paling sedih dari semua pendapat itu, adalah pendapat dari wanita yang sangat baik hati padanya, Madame dÉpinay yang mana kata-kata terakhirnya untuk Rousseau yaitu ‘Tak ada kata lagi yang tertinggal untukmu kecuali kasihan.’ Pendapat-pendapat seperti tidak didasarkan pada kata-kata orang tetapi didasarkan pada perbuatan-perbuatannya, dan karena sejak saat itu, lebih dari dua ratus tahun, banyak materi-materi yang telah digali oleh para sarjana cenderung mendukung pendapat-pendapat itu. Dalam catatan para akademisi modern, kekurang-kekurangan Rousseau adalah sebagai berikut: ‘dia adalah seorang yang ‘sok jogo, suka pamer, neurathentis, terlalu cemas terhadap kesehatan, suka onani, gila karena ketakutan, homoseks latent, tidak mampu mempunyai kasih sayang normal atau kasih sayang sebagai orangtua, introvert karena penyakitnya, penuh dengan perasaan bersalah, mempuyai penyakit malu-malu, kleptomanik, kekanak-kanakan, tidak berperasaan, dan menderita’.
Tuduhan-tuduhan semacam itu beserta bukti-buktinya tidak banyak berpengaruh terhadap daya tarik emosional dan intelektualnya. Selama hidupnya, berapapun banyaknya persahabatan yang dia rusak, dia tidak pernah menemukan kesulitan untuk mendapatkan teman-teman baru dan juga untuk menarik para bangsawan, murid-murid dan para penggagum hangat, yang siap menyediakan rumah, makan malam, dan wangi-wangian dupa sangat dibutuhkannya. Ketika dia meninggal dunia, dia dikubur di Île des Peupliers dekat danau Ermononville dan dengan cepat tempat itu menjadi tempat tujuan peziarah orang-orang sekuler dari seluruh Eropa, seperti kuil orang-orang suci Abad Pertengahan. Diskripsi-diskripsi jenaka dari para pengagumnya menjadi bacaan yang menyenangkan: ‘Saya berlutut..menekan bibirku pada batu monumen yang dingin…..dan saya menciumnya berkali-kali.’ Peninggalan-peninggalannya seperti kantong tembakau dan kendi dilindungi dengan hati-hati di ‘Tempat Perlindungan’. Orang-orang mengingat Erasmus dan John Colet yang mengujungi kuil agung St Thomas à Becket di Canterbury pada tahun 1512 dan mencemooh ekses dari orang-orang yang menziarahi. Apa yang para peziarah temukan dari ‘Santo Rousseau’ (sebagaimana George Sand memanggilanya penuh hormat) tiga ratus tahun setelah Reformasi? Pujian terus diberikan jauh sesudah abunya dipindah di Panthéon. Bagi Kant, Rousseau mempuyai ‘kepekaan jiwa yang kesempurnaanya tidak tertandingi’. Bagi Shelley, dia adalah ‘jenius yang luhur’. Untuk Schiller, dia adalah ‘seorang yang berjiwa seperti Jesus dan hanya malaikat surga yang pantas menemaninya’. John Stuart Mill dan George Elliot, Hugo dan Flaubert memberikan penghormatan yang mendalam.’ Tolstoy mengatakan bahwa Rousseau dan Kitab Injil adalah ‘dua hal yang mempengaruhi hidup saya’. Salah satu intelektual yang sangat berpengaruh saat ini, Claude Lévi-Strauss, dalam karya utamanya, Tristes Tropiques memanggil Rousseau sebagai ‘guru kita dan saudara kita….. dan setiap halaman dari buku itu dipersembahkan untuknya, jika itu bernilai untuk mengenang keagungannya’.
Semua itu sangat mengherankan dan mengambarkan bahwa para intelektual tersebut keterlaluan, tidak logis, dan bertakhyul seperti orang biasa lainnya. Hal yang sesungguhnya tampaknya bahwa Rousseau adalah seorang penulis yang jenius tetapi tidak seimbang antara hidup dan pandangan-pandangannya. Kesimpulan tentang Rousseau yang paling tepat adalah seperti yang digambarkan oleh seorang wanita, yang mana Rousseau bilang dialah kekasih satu-satunya, Sophie d’Houdetot. Sophie hidup sampai pada tahun 1813 dan pada usia tuanya dia menyampaikan putusan ini: ‘Rousseau adalah orang yang cukup buruk untuk menakuti saya dan cinta tidak membuatnya lebih menarik. Dia adalah seorang tokoh yang menyedihkan dan saya memperlakukannya dengan kelembutan dan kebaikan. Dia adalah orang gila yang menarik’.